Prabowo: Intelektual Harus Turun Gunung

190
Prabowo Subianto

Beji | jurnaldepok.id
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto meminta pada kaum cendekiawan dan intelektual untuk turun gunung mengatasi persoalan bangsa. Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu perubahan kearah lebih baik lagi datang dari kaum intelektual.

“Kaum intelektual Indonesia punya tanggungjawab atas kebenaran,” kata Prabowo saat bedah buku Nasionalisme Sosialisme Pragmatisme; Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Senin (18/9).

Ia menuturkan jika UI adalah center of excelent. Dari sejak lama, perubahan datang dari UI. Dia meminta agar kaum intelektual UI harus berani untuk menyatakan dan menegakkan kebenaran.

“Kampus mengajarkan ilmu dan kebenaran. Hukum yang diajarkan di universitas adalah hukum kebenaran,” jelasnya.

Dihadapan para tokoh nasional lainnya dan mahasiswa, Prabowo berkali-kali meminta pada para Profesor untuk turun gunung. Mereka diminta menyatakan kebenaran.

“Tokoh akademisi turunlah, jangan pandang ilmu terpisah-pisah,” tegasnya.

Sebelum berbicara didepan audience, Prabowo sempat mengaku grogi. Karena dia harus berbicara di hadapan banyak tokoh. Diantaranya, Emil Salim dan Akbar Tandjung.

“Saya grogi karena terlalu banyak tokoh besar, guru besar, tokoh bangsa,” ungkapnya.

Terkait soal insiden ricuh di depan Gedung LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, ia meminta semua pihak harus menahan diri.

“Saya belum membaca peristiwa itu, tapi prinsipnya saya kira semua harus damai, jangan seruduk-seruduk menurut saya,” tuturnya.

Dirinya berharap jika ada apabila persoalan, sebaiknya didiskusikan. Jangan melakukan pengerahan massa.

“Semua masalah bisa dibahas dengan baik, dengan sejuk. Berbeda pendapat itu baik. Biasa berbeda pendapat itu,” ucapnya.

Selain itu juga, soal isu komunisme menurut dia, semua paham radikal akan muncul selama ada ketidakadilan dan kemiskinan.

“Lalu penderitaan orang yang berada di lapisan paling bawah. Kita perlu memperkuat masyarakat kita, ideologi kita, ekonomi kita. Kalau ekonomi kuat, masyarakat kuat, ya perbedaan pendapat jadi biasa. Jadi tenang gitu. Jadi kita jangan mau di adu domba,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here