Spanduk RK Sakiti Pohon

367
Terlihat spanduk RK yang dipaku di sebuah pohon di Jalan Raya Muchtar, spanduk tersebut langsung menuai kecaman dari aktivis dan pecinta lingkungan.

Sawangan | jurnaldepok.id
Jelang pemilihan gubernur Jawa Barat pada 2018 mendatang berbagai macam cara dilakukan oleh calon maupun tim sukses calon yang ingin mensosialisasikan jagoan mereka di media tak terkecuali di pinggir jalan dan pepohonan.

Hal itulah yang terlihat di Jalan Raya Muchtar, Sawangan. Di mana, spanduk calon Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) terpaku di salah satu pohon. Belum jelas siapa yang memasang spanduk tersebut, namun kuat dugaan spanduk itu dipasang oleh timses RK.

Melihat kondisi itu, aktivis lingkungan merasa gerah lantaran pemasangan spanduk dinilai telah menyakiti dan bisa merusak pohon tersebut.

“Kami menyesalkan tindakan brutal yang menyakiti pohon, sementara komunitas dan pecinta lingkungan berusaha merawat dan menanam pohon di stiap kesempatan,” ujar Heri Saefudin Belangkon, Koordinator Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok, Selasa (5/9).

Ia menambahkan, seharusnya tokoh-tokoh publik memberikan contoh dan tauladan dalam aktifitas yang berkaitan dengan sosialisasi.

“Calon pemimpin harus mampu mengendalikan dan memberikan arahan yang jelas kepada timses maupun simpatisannya, dalam kaitannya dengan sosialisasi pemilihan kepala daerah,” paparnya.

Pendidikan politik, lanjutnya, semestinya memberikan pembelajaran tidak hanya terhadap suksesi kepemimpinan, tetapi juga proses pembangunan yang berkelanjutan. Sehingga dibutuhkan kesadaran seluruh elemen bangsa untuk ikut memikirkan pola didik dan pembelajaran politik yang ramah lingkungan.

Dari itu, Heri mendesak kepada Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil,red) untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat berkaitan dengan pelanggaran tetsebut.

“Kami juga memohon kepada Kepala Satpol PP Kota Depok untuk menertibkan spanduk yang dipaku dan diikat di setiap pohon tanpa terkecuali. Kami komunitas-komunitas yang tergabung di dalam FKH siap bersama untuk turun ke lapangan,” katanya.

Sebelumnya hal senada juga pernah diungkapkan oleh aktifis lingkungan, Didit.

“Bukan hanya kali ini, pepohonan ‘diperkosa’ untuk dijadikan media publikasi dan ‘alat peraga parpol’. Anehnya para penegak perda seolah selalu diam tanpa daya. Hampir selalu, di tiap momen politik dan kepartaian masyarakat kota disuguhkan pemandangan bendera serta alat peraga politik di pepohonan,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here