Puluhan Rumah Terendam Banjir

254
Anak-anak terlihat sedang bermain di lokasi banjir di lingkungan RW 02 Kelurahan Bojongsari, Kecamatan Bojongsari. Banjir disebabkan meluapnya air solokan dan pengurukan sawah oleh pengembang perumahan

Bojongsari | jurnaldepok.id
Puluhan rumah yang berada di lingkungan RT 01 dan 03/02 Kelurahan Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, terendam banjir. Hal itu disebabkan meluapnya air solokan yang merupakan terusan dari Kali Pondok. Alhasil, lebih dari 30 rumah terendam air.

“Air mulai naik ke rumah warga sekira pukul 20.00 WIB, ketinggiannya bervariasi. Namun rata-rata mencapi 50-60cm,” ujar Sobirin, Ketua RW 02 Kelurahan Bojongsari, Minggu (24/7).

Ia mengatakan, banjir bukan kali ini saja terjadi namun sudah beberapa kali terjadi. Terlebih, ketika hujan deras air langsung meluap ke pemukiman warga. Meski sudah dipasang turap, namun banjir masih meluap ke rumah warga.

“Memang solokan ini sudah dilebarin, namun di hilirnya solokan menyempit. Belum lagi ada kabel-kabel di sana yang melintang dan menghambat debit air ke hilir,” paparnya.

Selain merendam rumah warga dan sekolah Kelompok Bermain, banjir juga telah merendam barang berharga milik warga seperti kasur dan peralatan rumah tangga lainnya.

Selain buruknya kondisi saluran air, banjir juga diduga disebabkan oleh adanya proyek Perumahan Cendana Regency yang menguruk area persawahan. Alhasil, kini tidak ada lagi resapan air di sana.

“Sebenarnya area itu merupakan jalur kuning, artinya memang tidak boleh dibangun perumahan atau bangunan apapun, karena merupakan area resapan. Selain itu, area tersebut merupakan jalur penghijauan,” jelas Nurul Falah didampingi rekannya, Sulaiman, warga setempat.

Palaksana lapangan Perumahan Cendana Regency, Anton mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan normalisasi solokan tersebut.

“Waktunya belum tahu, kami menunggu perintah dari pusat terlebih dahulu. Mudah-mudahan bisa tahun ini,” ungkapnya.

Lurah Bojongsari, Undang Hidayat yang turun langsung ke lokasi ditemani Ketua YDUB Kota Depok, Adin H Dawih beserta ketua RW dan masyarakat mengatakan, pihaknya segera membuat laporan tertulis kepada pemerintah.

“Setelah kami turun ke lapangan memang ada beberapa hal yang harus segera dilakukan seperti pelebaran solokan dan normalisasi. Kami akan melayangkan surat ke Dinas PUPR untuk segera ditindaklanjuti,” tanggapnya.

Banjir yang merendam lebih dari 30 kepala keluarga tersebut sudah berlangsung sejak 2002 silam. Namun, banjir terparah terjadi sejak lima tahun terakhir belakangan ini. n Rahmat Tarmuji

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here