Polemik Lahan SMAN 9 Berlanjut

185

Cinere | jurnaldepok.id
Janji PT Megapolitan Developments Tbk selaku pengembang Perumamahan Megapolitan sebagai pihak penghibah lahan SMAN 9 untuk segera mengosongkan lahan sekolah yang terbangun rumah kontrakan dan rumah tinggal diatas lahan sekolah itu, hingga kini belum juga teralisasi.

Mangkraknya proses relokasi rumah kontrakan dan rumah tinggal yang menyita lahan sekolah seluas 800 meter persegi itu tak luput menjadi sorotan sejumlah kalangan.

Salah satu tokoh muda Cinere, Juhri mengaku heran dengan lambannya proses relokasi bangunan yang berdiri di atas lahan sekolah itu, padahal permasalahan ini sudah diketahui oleh pemerintah kota (Pemkot) Depok sejak jaman pemerintahan Nur Mahmudi Ismail.

“Polemik soal lahan sekolah SMAN 9 sudah mencuat di media sejak empat tahun silam, dimana pada waktu itu Walikota Depok, Nur Mahmudi langsung bereaksi dengan menurunkan jajarannya untuk menyelesaikan permasalahn itu. Namun anehnya sampai sekarang bangunan kontrakan dan rumah tinggal yang berada di dalam lingkungan sekolah itu masih berdiri tegak dan belum ada tanda-tanda akan direlokasi, ” ujar Juhri kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dikatakan Juhri, lahan seluas 800 meter persegi milik sekolah yang telah terbangun rumah kontrakan dan rumah tinggal itu dapat dioptimalkan untuk membangun sejumlah fasilitas penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), atau untuk lahan pekarangan dan parkiran.

Ketua PAC Partai Gerindra Cinere itu meminta kepada Pemerintah Kota Depok dalam hal ini bagian Asset Kota Depok, untuk segera mengambil alih lahan tersebut agar dapat digunakan untuk kepentingan aktivitas pendidikan.

“Pemkot atau bagian asset harus serius menangani permasalahan ini, jangan terus dibiarkan berlarut-larut karena jika tidak maka nanti akan semakin sulit mengupayakan kembali lahan milik sekolah itu, ” imbuhnya.

Harapan senada juga disampaikan oleh Kepala SMAN 9, Supiyana. Dikatakannya, keberadaan rumah tinggal dan belasan pintu rumah kontrakan di dalam lingkungan sekolah itu dirasakan sangat mengganggu kenyamanan pelaksanaan proses belajar mengajar. Dia berharap kepada pihak terkait terutama manjemen PT Megapolitan untuk segera memenuhi janjinya mengosongkan lahan itu dari bangunan rumah dan kontrakan.

“Kalau bicara soal nyaman atau tidak nyaman sudah jelas dengan adanya bangunan itu sedikit banyaknya mengganggu kenyamanan KBM. Mungkin hanya di sekolah kami ada bangunan rumah dan kontrakan di dalam lingkungan sekolah, ” kata Supi kepada Jurnal Depok usai menutup pelaksanaan MPLS siswa baru belum lama ini.

Saat dikonfirmasi Jurnal Depok terkait hal itu Kabid Asset Setda Kota Depok, Dheni Wahyu Darnaedi mengatakan akan memeriksa ulang berkas serah terima lahan fasos fasum yang diserahkan oleh PT Megapolitan Developments untuk sekolah tersebut.

“Nanti kami akan periksa berkas serah terima lahan itu guna memastikan luas lahan fasos fasum yang diserahkan. Tidak menutup kemungkinan nanti akan ada konsolidasi ulang dengan pihak Megapolitan guna menindaklanjuti pembahasan terkait lahan sekolah itu, ” pungkas Dheni. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here