Garam Mulai Langka

312

Cimanggis | jurnaldepok.id
Komoditas garam diketahui belakangan ini keberadaanya mulai langka. Para ibu rumah tangga mulai khawatir dengan adanya hal tersebut.

Diakui Siti (39) dua hari lalu ia masih mudah menemukan garam dapur di pasar. Namun sejak kemarin dirinya mengaku cukup sulit mendapatkan garam.

“Kemarin saya belanja ke Pasar Cisalak ternyata susah banget dapetin garam. Mau itu garam balokan atau garam halus. Sebelumnya masih gampang didapat,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Imah (40). Warga Cimanggis itu mengatakan kerepotan jika tidak ada garam. Pasalnya selain untuk memasak sendiri, garam juga digunakan sebagai salah satu bumbu didagangannya.

“Kan saya jualan gado-gado. Kalau nggak ada garam, susah juga. Sekali nya ada, harganya mahal. Biasanya dibawah Rp 1000 ini jadi Rp 3500 per kg,” terangnya.

Dirinya berharap pemerintah dapat segera mencari solusi dari masalah tersebut. Menurutnya Indonesia dikenal dengan negara yang kaya laut, maka bisa dengan mudah mendapatkan garam.

“Indonesia kan negara yang memiliki jumlah laut yang banyak. Kenapa bisa sampai kekurangan garam ya? Garam kan bisa didapat disana. Saya terkadang bingung, kenapa bisa kayak gini,” tutupnya.

Warga lain Sadiah (50) mengatakan jika peristiwa langka nya garam baru betul-betul dirasakan nya sekarang. “Lebih kerasa sekarang, pemerintah harus turun nih, kenapa garam bisa nggak ada di pasar,”ucapnya.

Sementara itu Kepala UPT Pasar Cisalak Nelson Da Silva membenarkan jika garam mulai langka. Kelangkaan itu terjadi sejak Jumat (21/7).

“Iya benar garam langka. Sudah sejak Jumat langkanya,” terangnya kemarin.

Dirinya menerangkan yang langka adalah garam dapur dalam bentuk balokan maupun halus.

“Suplainya memang tidak ada dari Pasar Induk. Biasanya para pedagang mengambil garam darisana. Tapi sejak kemarin garam sudah langka. Harga garam juga naik Rp 500,” terangnya.

Sebelumnya pemerintah diminta segera mengeluarkan izin impor garam secepatnya. Saat ini mayoritas industri di Jawa Barat terancam tidak bisa berproduksi lagi akibat meroketnya harga garam hingga 400 persen.

“Selain mahal, garam pun langka,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Deddy Widjaya.

Ia mengatakan industri strategis yang membutuhkan garam antara lain industri tekstil, penyamakan kulit, aneka pangan hingga farmasi. Parahnya lagi, Jabar merupakan pemakai garam terbesar.

Saat ini, harga garam di pasaran sudah mengalami kenaikan hingga 400 persen dari semula Rp 700 menjadi Rp 3.500 bahkan ada yang Rp 4.000 per kg. Dengan harga yang tinggi, sudah bisa dipastikan industri di Jawa Barat tidak bisa bersaing lagi.

“Bukan hanya mahal, barangnya pun tidak ada. Kami minta pemerintah jangan membiarkan industri banyak yang gulung tikar akibat tidak adanya garam,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here