Kampus Gundar Digeruduk

256

Margonda | jurnaldepok.id
Puluhan orang dari berbagai organisasi yang peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus mendatangi Universitas Gunadarma Kampus D yang berlokasi di Jalan Raya Margonda Depok. Mereka mempertanyakan pihak kampus atas video bullying seorang mahasiswa yang berkebutuhan khusus berinisial MF yang dilakukan terhadap teman-teman kampus nya sendiri.

“Ada lebih dari 37 organisasi yang peduli kebutuhan berkebutuhan khusus menyatakan sikap. Intinya kami kecewa dan mempertanyakan dimana rasa empati mereka sehingga bisa memberlakukan temannya seperti ini,” ujar Farida Lucky perwakilan Yayasan Cinta Sahabat Special kemarin.

Dirinya menjelaskan kedatangan mereka juga berangkat dari hati nurani. Sebagai orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dia merasa sakit hati.

“Tidak gampang loh bagi korban sampai ke tahap ini. Dia sudah berhasil masuk ke perguruan tinggi. Ketika anak berkebutuhan khusus diperlakukan begini, dimana empatinya,” jelasnya.

Sementara itu Sofa, Masyarakat Peduli Autis Indonesia menyatakan jika kasus bullying terhadap anak autis di universitas tak hanya baru pertama kali terjadi.

“Sebelumnya sempat terjadi juga di Sekolah Telkom Bandung, ketika itu anaknya disuruh loncat dari lantai 4, untungnya berhasil ditangkap oleh ibu asrama. Tapi sekarang keadaan sudah berangsur membaik. Anak berkebutuhan khusus ini memang sulit untuk bersosialiasi. Jadi teman-teman di kampusnya lah yang mengajak nya ber sosialisasi,” paparnya.

Dia menuturkan jika suatu kampus komitmen menerima mahasiswa yang berkebutuhan khusus maka harus paham kebutuhan nya.”Kampus harusnya juga sudah siap. Dan yang paling penting lingkungan juga harus siap. Menurut saya para pelaku bullying ini tidak manusiawi, harus distop kekerasan terhadap ABK,” terangnya.

Menurut Justisi salah satu perwakilan dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia mengaku jika fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas masih minim.

“Contohnya harus ada rem agar gedung akses bisa diakses penyandang disabilitas. Saya sebagai penyandang disabilitas kesulitan saat masuk ke gedung ini. Saya kesulitan juga masuk ke toilet,” terangnya.

Dirinya memaparkan secara infrastruktur kebutuhan disabilitas belum terpenuhi. Kasus ini sebagai pembuka, sebuah contoh implementasi undangan-undang No 8 Tahun 2016 harus ditetapkan dari semua segi. “Kasus ini belum ramah terhadap penyandang disabilitas,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here