Ustad Pandawa Diboikot

440

Setelah menyeret puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Depok dalam investasi Pandawa Mandiri Group (PMG), belakangan disebut-sebut puluhan ustad ikut terjelembab dalam bisnis investasi yang telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok tersebut.

Hal itu berdampak langsung pada kredebilitas seorang ustad di lingkungan masyarakat. Bahkan, belakangan issue boikot ustad Pandawa menyeruak ke permukaan. Di mana, di beberapa masjid dan majlelis ta’lim di Kota Depok telah memboikot ustad yang ikut bergabung di Pandawa agar tidak dilibatkan lagi dalam berdakwah seperti menjadi khotib pada khutbah Jumat dan mengisi atau menjadi narasumber di setiap kegiatan pengajian. Pasalnya, mereka beranggapan para ustad tersebut tidak menghormati dan menjalankan fatwa MUI.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH Encep Hidayat mengatakan wajar jika masyarakat memiliki inisiatif tersebut.

“Ya karena ustad itu kan harus melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang harus dilakukan kepada dirinya sendiri, baru keluarga dan baru kepada orang lain. Sekarang kalau ustad itu melakukan pelanggaran secara syariat dan bersifat terbuka sama saja seperti mengajak maksiat. Jadi sangat wajar kalau ada masyarakat yang memberikan respon tidak mau lagi menggunakan mereka (ustad,red) sebagai khotib maupun guru pengajian, itu sudah tepat,” ujar Encep kepada Jurnal Depok, Minggu (22/1).

Dari itu Encep mengajak kepada para ustad yang masih ikut dalam investasi Pandawa Mandiri Group untuk segera bertaubat kepada Allah. Karena, kata dia, jika seseorang telah melakukan kesalahan jawabannya tak lain yakni bertaubat.

“Taubat lah dengan cara menyesali, selanjutnya melepas dari perbuatan itu dan berencana kuat untuk tidak kembali lagi melakukan itu serta melakukan islah-islah yang lain. Kami fikir di dalam agama jika seseorang sudah bertaubat dan menyesali perbuatannya tentu bisa diterima lagi apakah kapasitasnya sebagai ustad maupun guru mengaji,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bagaimana masyarakat mendapat kepercayaan kepada yang mengajak (ustad,red), sementara yang mengajak itu sendiri melakukan pelanggaran agama, alhasil dakwah itu menjadi kurang bermanfaat.

Encep yang juga merupakan Anggota Komisi Fatwa Provinsi Jawa Barat menyimpan rasa keperihatinan tersendiri terhadap pengikut Pandawa. Bagaimana tida, kata dia, pengikut Pandawa didominasi orang awam yang tidak mengerti.

“Ustad-ustad banyak yang masuk, kiai juga katanya ada yang ikut, seolah itu dijadikan pencitraan sehingga orang awam dengan mudah ikut bergabung. Kami kasihan kepada mereka yang telah tertipu,” ungkapnya.

Ketua Baznas Kota Depok itu mengatakan, bahwa MUI juga mendesak agar pihak kepolisian bertindak cepat untuk merespon persoalan tersebut dan diselesaikan secara hukum.

“Aparat harus cepat tanggap dalam merespon laporan masyarakat, jangan sampai ada praduga dari masyarakat,” jelasnya.

Tak hanya itu, MUI juga meminta kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya seperti halnya leader dan bos Pandawa harus bertanggungjawab secara proporsional sesuai dengan levelnya.

“Kami berdoa agar ke depan tidak ada lagi kasus serupa di Depok, masyarakat harus waspada jangan sampai terjebak pada pencitraan atau melihat secara lahiriah saja. Karena sekarang ini banyak orang yang tidak menghormati ulama dalam pengertian pakaian ulama dipakai tidak dalam kapasitasnya. Tanyalah kepada orang yang betul-betul mengerti persoalan agama jika itu menyangkut persoalan agama,” ungkapnya.

Sebelumnya, MUI Kota Depok telah mengeluarkan Fatwa Haram terhadap system investasi yang dilakukan oleh Pandawa Mandiri Group. Di mana, system tersebut digadang-gadang tidak sesuai syariat Islam dan mengandung unsur riba.aaaaaaaaaaaaaaaa

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here