Bos Pandawa Dipolisikan

362

Dua nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa kemarin mendatangi Polresta Depok. Mereka adalah pasangan suami istri Dian Ambarsari (38) dan suaminya Nanang Bachtiar (37) yang melaporkan bos Pandawa Salman Nuryanto atas dugaan penipuan.

Dalam laporannya, Dian mengaku merasa tertipu atas penyertaan modal senilai Rp289 juta ke KSP Pandawa melalui leader bernama Vita Lestari, Fais dan Faruq.

“Apa yang dijanjikan dalam MoU (Memorandum of Understanding) tidak terealisasi. Ibaratnya mereka wanprestasi dari surat perjanjian yang diterima. Saya juga nggak ada kepastian dari pihak Pandawanya bahwa modal bisa ditarik. Tapi ini kan nggak jelas, makanya saya kesini,” ujarnya.

MoU yang dimaksud Dian adalah, kewajiban KSP Pandawa memberikan bunga sebesar 10 persen tiap bulan dari nilai investasi yang disetorkan nasabah.

“Dua bulan terakhir kami tidak mendapatkan apa yang dijanjikan alias wanprestasi. Sebelumnya sih lancar tapi sejak Desember mandek. Saya ada rencana mau tarik awal Desember, tapi ketika itu dilarang dengan alasan sejak 8 Desember hingga 8 Januari akan ada penataan administrasi sehingga tidak ada transaksi,”tuturnya.

Dian mengaku pertama kali setor awal sebesar Rp 10 juta. “Itu Februari 2016, saya cicil-cicil, itu semua uang pribadi. Saya dan suami sampai jual mobil lama BMW untuk investasi,” terang Diana.

Alasan dia percaya untuk investasi ke Pandawa lantaran diberikan pemahaman atau istilahnya perspektus dari leadernya. “Dibilangnya usaha ini real akan dialirkan ke UKM, nelayan, pedagang yang tidak tersentuh perbankan. Ya saya percaya itu,” akunya.

Dirinya dan suami sudah berupaya meminta kejelasan permasalahan itu kepada leadernya. “Kami sudah ketemu dengan leader tapi mereka juga bilang tidak bisa berbuat apa-apa. Leader juga nggak kasih informasi apa-apa ke saya. Saya sudah datangi rumah Pak Nuryanto, tapi nggak ketemu solusinya,” ucap Dian.

Atas dasar itu, Dian dan suaminya melapor ke Polresta Depok. Ia  ingin uang Rp289 juta itu bisa ditarik. “Saya sudah mandek, saya hampir 200 jutaan itu saya pinjam ke bank. Saya ingin uang kembali tapi susah,” katanya.

Ia berharap, setelah laporan tersebut bisa menghasilkan solusi terbaik. “Kalau semua cuci tangan, siapa yang bertanggungjawab,” tandas warga Sawangan itu.

Sementara itu Wakapolres Kota Depok  AKBP Candra Kumara menegaskan hingga kini sudah ada satu orang nasabah Pandawa yang melapor secara resmi.

“Ada tujuh orang lagi pendana tapi masih didatakan. Kalau yang lapor satu orang secara resmi. Karena kalau berkaitan dengan UU koperasi dan perbankan itu ranahnya Polda Metro Jaya,” ujarnya.

Meski demikian pihaknya siap menerima laporan warga yang merasa tertipu. “Tapi kalau urusannya dengan koperasi itu di Polda. Diperkirakan jumlah nasabah Pandawa mencapai 1000 lebih dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 1 miliar,” kata Wakapolres.

Ia mengatakan nasabah yang melapor adalah yang merasa hak nya tidak dikembalikan. “Harusnya sudah jatuh tempo pembayaran bunga tapi nggak dibayarkan. Kami masih mendalami apakah ada unsur pidana dan juga akan kami telusuri keberadaan pemilik Pandawa,” tutupnya.hwssw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here