Putus Rantai Senior-Junior

217

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Ferdinand Andi Lolo mengatakan, kekerasan yang terjadi di STIP terjadi turun temurun. Menurutnya budaya kekerasan itu bukan tidak mungkin dihilangkan asalkan dilakukan dengan serius dan tegas.

“Kalau mau diubah ya harus diputus,” katanya.

Biasanya ketika ada angkatan baru maka senior kerap mendominasi terhadap mereka. Junior diberi pemahaman mengenai nilai kekerasan secara turun temurun.

“Oleh karenanya untuk memutus ini harus melibatkan seniornya juga. Mereka bisa melakukan mentoring tapi bukan budaya kekerasan,” ucapnya.

Menurutnya, sekolah harus tegas. Artinya tidak ada toleransi terhadap segala jenis kekerasan yang terjadi. Jika ada yang melakukan kekerasan maka harus dilakukan tindakan tegas. Misalnya dengan mengeluarkan pelaku tindak kekerasan.

“Jadi sekolah tidak boleh takut untuk bertindak tegas,” pungkasnya.

Sementara itu Psikolog Universitas Pancasila Auly Grashinta mengungkapkan jika bullying antara senior dan junior terjadi karena rantainya tidak pernah diputus. Bahkan tidak benar- benar putus sehingga masa ke masa selalu ada kasus ini. Apa yang dilakukan oleh senior akan dilakukan lagi junior saat mereka naik tingkat jadi senior.

Bahkan semua beranggapan kekerasan merupakan cara yang ‘biasa’ untuk mendidik junior. Tak jarang siswa senior merasa ‘bangga’ pernah mengalami bullying saat jadi junior dan sekarang mereka ‘survive’ sehingga selayaknya junior merasakan hal yang sama bahkan meningkatkan standar kekerasan tersebut.

“Ini menjadi turun menurun atau dapat disebut budaya,” jelasnya.

Untuk menghentikannya diperlukan tiga cara pemutusan rantai misalnya dengan moratorium tiga tahun sehingga mulai lagi dari angkatan pertama tanpa senior.

Merubah pola pembinaan siswa baru dari nol. Merubah paradigma pendidikan tanpa kekerasan juga harus dilakukan baik dari pimpinan sekolah, guru, manajemen sekolah, sampai ke warga sekolah secara keseluruhan.

“Tanpa adanya moratorium tersebut budaya ini akan terus menerus berlanjut.e5y78u4

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here