Dua Siswa SMP Ciptakan “APPLE”

161

untitled-5

Jakarta | Jurnal Bogor

Dua siswa dari SMP Negeri 1 Sabang Azy Ilham Sudibyo dan Tio Pidie Lesmana berhasil menciptakan sebuah produk inovasi yakni APPEL. Ini merupakan alat pencuci piring portable yang bisa mencuci piring dalam jumlah yang lumayan banyak dalam satu waktu.

Wakil Pembimbing, Asep Sugandi menuturkan alat pencuci piring ini terbilang terjangkau karena dibuat dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai. “Seperti dari ember bekas cat, untuk tempatnya,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Penggunaan produk ini pun cukup mudah, hanya dengan memutar pipa bagian atas, maka piring yang ada dalam ember tersebut akan berputar bersama air. “Ibaratnya sama seperti mencuci baju di mesin cuci. Itu kan berputar, nah alat ini juga akan memutar piring, gelas maupun mangkok didalamnya sehingga bisa bersih kembali,” ucapnya.

Selain efisien dalam mencuci piring, alat ini juga bisa menghemat air yang digunakan. Dalam sekali pengisian air, jika piring yang hendak dicuci tidak terlalu kotor maka bisa dipakai sampai empat kali.

“Tapi kalau kotor sekali ya mungkin hanya dua kali saja. Baru diisi lagi dengan air yang baru. Sabun cuci piringnya juga tidak perlu terlalu banyak,” imbuhnya.

Dalam sekali mencuci, alat ini bisa mencuci sebanyak 10 buah piring. “Dan itu tidak akan pecah, karena kami juga sudah mencobanya,” imbuhnya.

Asep mengaku, ide inovasi dari siswa bimbingannya tersebut berasal saat Azi diminta oleh sang ibu untuk mencuci piring. “Nah disitu dia mencoba untuk mengaduk-aduk piring yang ada di ember, ternyata besih juga. Akhirnya dibuatlah mesin cuci piring portable ini,” ujarnya.

Tidak butuh waktu lama menyelesaikan alat ini, hanya butuh waktu sekitar enam bulan sampai akhirnya alat ini dibuat. “Waktu untuk membuatnya juga tidak terlalu lama. Hanya sekitar enam bulan,” tambahnya. n Gita Purnama | *

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 

Hilangkan Jenuh dan Rasa Trauma

Anak-anak Korban Banjir Main Perkusi

BANDUNG | Jurnal Bogor

Sejumlah anak-anak bermain musik perkusi dari barang-barang bekas untuk menghilangkan kejenuhan selama tinggal di kawasan terdampak banjir bandang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (29/9).

Anak-anak berstatus pelajar sekolah dasar itu sebagian adalah warga korban yang rumahnya terendam banjir bandang luapan Sungai Cimanuk.

Mereka tampak asyik memainkan barang bekas seperti kaleng, ember dan barang lainnya sisa dari bencana banjir dengan cara dipukul-pukul secara berirama.

Lantunan musik yang dipukulnya itu menghasilkan suara harmonis dengan diiringi nyanyian dari lagu-lagu yang sering dilantunkan pengamen jalanan. “Senang saja bermain musik sambil nyanyi-nyanyi,” kata Andri siswa kelas 6 SD.

Mereka bermain di pinggiran Sungai Cimanuk di bawah rumpun bambu, sebuah pohon yang tersisa dari derasnya luapan sungai terbesar di Garut itu.

Seorang anak korban banjir, Amang mengatakan sudah dua hari bermain musik dari barang bekas sambil nyanyi-nyanyi di pinggiran Sungai Cimanuk.

Menurut dia hanya barang bekas yang tersisa untuk mengisi waktu aktivitas bermain setelah pulang sekolah. “Setelah pulang sekolah semua main ke sini (kawasan terdampak banjir),” kata Amang siswa kelas 1 SD itu.

Amang menceritakan sejak terjadi banjir hanya diam dan keliling-keliling kawasan yang terkena dampak banjir bandang di Kampung Cimacan, Kecamatan Tarogong Kidul.

Amang merupakan anak yang selamat dari terjangan banjir bandang karena berhasil naik ke dataran tinggi sebelum air merusak rumahnya. “Saat banjir datang saya digendong sama aa (kakak),” kata Amang.

Kawanan anak-anak yang bermain di pinggiran Sungai Cimanuk itu mengisi suara hening kawasan terdampak banjir di Kampung Cimacan. Kampung yang sebelumnya padat penduduk itu menyisakan puing-puing bangunan rumah dan tumpukan perabotan rumah tangga juga barang-barang lainnya.

Keberadaan anak-anak tersebut menjadi perhatian sejumlah warga yang datang untuk melihat kondisi pascabanjir bandang maupun anggota TNI yang sedang tugas jaga.

Selain anggota TNI, warga lainnya yang masih bertahan di rumah terdampak banjir merasa terhibur dengan keceriaan anak-anak tersebut.

“Jadi merasa ramai, tidak sepi,” kata Cacih (43) korban banjir yang masih bertahan tinggal di rumahnya tidak jauh dari aliran Sungai Cimanuk.

 

 

Indonesia Raih 13 Emas ASC

Jakarta | Jurnal Bogor

Delegasi Indonesia meraih 13 emas pada ASEAN Skills Competition (ASC) XI di Putra Jaya, Malaysia yang berlangsung 23 hingga 28 September 2016. Informasi tersebut berdasarkan data yang disampaikan Ketua Delegasi ASC Indonesia Khairul Anwar dan twitter @KemnakerRI, Kamis.

Pada ajang tersebut, tuan rumah Malaysia meraih 22 emas, lima perak, dan empat perunggu. Penutupan ASC 2016 berlangsung di Putra Jaya International Convention Center (PICC) Rabu (28/9) malam yang dihadiri langsung Wakil Perdana Menteri dan juga Menteri Dalam Negeri Malaysia Dato Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi.

Sejumlah delegasi Indonesia peraih emas, di antaranya Riza Budi Prasetya meraih emas dalam IT Software Solution For Business, Helmi Yuliardi meraih emas dalam Kejuruan Electronics, dan Anggun Nurdila menyumbang emas untuk Fashion Technology. Kemudian Hadi Setiawan dan Kenrick Satrio Sahputra dinobatkan sebagai “Web Designer Terbaik se-ASEAN,” dan berhasil mis dan M Asad Humam meraih perunggu dalam Kejuruan Automobile Technology, M Dhio Fadly dan Junito Suroto meraih perak dalam kejuruan CNC Maintenance. Ahmad Zaenul Amin dan Martinus Dedi Wicaksono dinobatkan sebagai Cabinet Maker Terbaik se-ASEAN, dan Dwi Safitri Raih meraih perak pada Kejuruan Beauty Therapy.

Eko Mustofa dan Andy Yuniawan berhasil menjuarai Kejuruan Mobile Robotics, dan Dina Nugrahani meraih perak dalam Fashion Technology. Sedangkan Saridah meraih medali perunggu dalam Kompetisi Hairdressing, dan Okky Permana dinobatkan sebagai “Jawara Graphic Design Technology se-ASEAN”.

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri saat menghadiri pembukaan mengharapkan agar delegasi Indonesia menjadi juara umum dalam “11th ASEAN Skills Competition (ASC)” itu. “Kalau bisa kita juara umum, tapi yang penting bagi saya ada greget dari seluruh mitra untuk terus meningkatkan kompetensi generasi muda bahwa keterampilan mereka harus digenjot,” katanya lagi.

Hanif mengatakan keterampilan itu sangat penting karena pada dasarnya hari ini harus ada transformasi orientasi dari pendidikan kita yang tadinya berorientasi gelar atau capaian-capaian akademik, sekarang harus pada keterampilan atau kompetensi.

 

Tantangan Terbesar Dunia Penelitian

Jakarta | Jurnal Bogor

Dalam dunia penelitian, terdapat tantangan terbesar yang harus dihadapi. Tantangan tersebut yakni pada dunia industri.

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnaen menuturkan belum banyak industri yang menggunakan produk inovasi. “Belum banyak industri yang menerima hasil penelitian,” ungkapnya di Gedung LIPI, Jakarta, belum lama ini.

Iskandar menjelaskan, sulit bagi industri untuk menerima produk hasil penelitian. Karena biasanya produk penelitian itu belum selesai, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut. “Sedangkan industri itu biasanya berorientasi pada keuntungan dan mereka belum mau untuk menganggarkan investasi tersebut pada pengembagan itu,” ucapnya.

Para peneliti muda Indonesia juga sudah diperkenalkan dengan sejumlah juri internasional dengan tujuan membuat mereka bisa lebih percaya diri. “Kalau mereka berkompetesi di luar negeri jadi tidak canggung lagi dan bisa tampil dengan maksimal,” imbuhnya.

Salah satu perwakilan dari British Council, Terese menambahkan adanya para juri internasional yang datang dalam kompetisi penelitian yang diadakan di Indonesia untuk berbagi pengalaman.

“Adanya juri internasional ini bukan untuk membuat peneliti Indonesia terpengaruh dengan yang ada di luar negeri. Tapi menempatkan para peneliti Indonesia di panggung internasional. Sehingga mereka bisa bertukar pengalaman dan ilmu. Karena sebagai ilmuwan kita harus berpikir global,” tambahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kilas

 

 

Paduan Suara UGM Raih Juara di Italy

Prestasi tingkat internasional diraih oleh Tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Italia. Di ajang International Choral Competition (ICC) 2016 itu, PSM UGM menyabet Gold Diploma Level 1 dan Level 2, sehingga membawa pulang silver medali.

Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa PSM UGM, Aprilio Ade Wismoyo mengatakan, kompetisi tersebut diikuti oleh 19 tim paduan suara dari berbagai negara di dunia. Tim berhasil meraih juara kedua pada kategori sacred music, serta posisi dua pada kategori gospel and folklore. “PSM UGM berhasil mendapatkan medali perak ICC di Italia,” ucapnya dilansir dari laman UGM, Kamis (29/9/2016).

Pada kompetisi itu, lanjut dia, timnya mengirim 27 penyanyi, satu conductor, serta didampingi tiga official dan satu pembina. Adapun beberapa lagu yang ditampilkan meliputi, O Magnum Mysterium, O Nata Lux, Ubi Catiras, dan Gloria Patri di kategori sacred music. Sedangkan di kategori gospel dan folklore menampilkan lagu Ugo-Ugo (Banyuwangi), Benggong (NTT), Tak Tong Tong (Padang) dan Let Me Fly.

“Pada kategori Grand Prix, PSM UGM membawakan repertoar Ergebung, Io Mi Son Giovinetta, dan Qontrr Qui, Rose,” sebutnya.

Aprilio menambahkan, tim penilai merupakan lima pakar di bidang paduan suara dari berbagai negara. Mereka adalah Eriks Ešenvalds sebagai President of the jury yang berasal dari Latvia, Anatoly Kiselev sebagai anggota juri dari Russia, dan Manolo Da Rold anggota juri dari Italia, Margrethe Ek anggota juri dari Norwegia, dan Fabio Pecci anggota juri dari Italia.

“Terima kasih atas doa dan dukungannya. Semoga PSM bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama UGM di berbagai kompetisi,” tutur pembina PSM UGM, Antari Innaka bangga.

Antari mengatakan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari usaha dan kerja keras tim PSM UGM dalam mengikuti kompetisi. Sebelum mengikuti ICC di Rimni, tim juga pernah berprestasi dalam kompetisi A Voyage of Song (AVOS) International Choral Festival di Bangkok.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here