IPM Cipayung Terendah

223

Balaikota | Jurnal Depok
Angka kemiskinan di Kota Depok semakin menurun. Berdasarkan data 2015, angka kemiskinan Depok mencapai 2,18 persen. Namun hal tersebut yang kini menjadi perhatian Pemkot Depok adalah meningkatnya angka pengangguran.

“Tingkat kemiskinan masih jauh dibawah provinsi. Yang naik malah pengangguran sampai 8 persen. Ini diakibatkan adanya urbanisasi. Banyak yang ke Depok mau cari pekerjaan tapi nggak dapat, sehingga menjadi pengangguran,” ujar Walikota Depok Mohammad Idris.

Ia menerangkan IPM yang terendah diduduki kecamatan Cipayung. “Kemudian Tapos, Bojongsari, Sawangan, yang tertinggi IPM nya Sukmajaya. Saya inginnya kecamatan yang masih IPM nya rendah mendapatkan anggaran yang lebih. Misalnya per kecamatan dapat Rp 5 miliar. Inginnya tiga kali lipat. Tapi ternyata tidak bisa karena ada rasionalisasi sehingga pemerataan pembangunan terhambat. Nanti dilihat mana yang bisa dikalahkan mana yang bisa diprioritaskan,” paparnya.

Sementara itu Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna menuturkan berbagai hal tengah dilakukan Pemkot Depok untuk menentaskan kemiskinan.

“Bidang infrastruktur ada program penanganan kawasan kumuh. Kemudian pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yakni dengan membidik kantong-kantong kemiskinan. Kami berikan program pelatihan pengolahan hasil pertanian, pelatihan kerajinan, fashion dan lain-lain,” tutur Pradi.

Pada 2015, angka kemiskinan semakin menurun. “Presentasinya 2,18 persen dengan jumlah penduduk miskin 45.913 jiwa. Daya beli masyarakat 661.335 dengan gini rasio 0,365. Ini artinya kesenjangan kaya dan miskin kecil,” ungkapnya.

Meski demikian Pemkot Depok tetap menaruh perhatian khusus kepada masyarakat miskin. “Kuota 20 persen bagi siswa kurang mampu. Kemudian pemberian jamkesda untuk masyarakat yang tingkat kesejahteraannya 40 persen terendah dan peningkatan gizi masyarakat,” tandasnya.nNur Komalasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here