‘Calon Kepala Daerah Jangan Lupa Akar’

174

BHL3-

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kembali menggelar Sekolah Partai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Pilkada Serentak Tahun 2017 di Wisma Kinasih, Tapos Depok, Selasa (6/9).

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri mengingatkan calon kepala daerah dan wakil kepala tidak boleh lupa terhadap misi partai. Apalagi jika yang bersangkutan terpilih menjadi pemimpin.

“Namanya pemimpin tidak boleh lupa akar, harus ingat misinya. Tolong didengarkan dan dipakai kalo saudara bisa menang,” ujar Mega.

Dia berharap partainya dapat menjadi alat politik. “Alat perjuangan untuk capai proklamasi. Seorang pemimpin haruslah memahami aturan yang ada dan diharapkan bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Pemimpin tak boleh salahi aturan. Jangan korupsi,” terangnya.

Menurutnya jika pemimpin daerah dari partainya tidak bisa mengikuti aturan lebih baik mundur. “Cita-cita saya seperti itu. Jadi pikir-pikir lagikalo mau masuk PDIP. Jika gak bisa ikut aturan lebih baik mundur,” paparnya.

Dia mengatakan bukan partai yang memenangkan seorang calon pemimpin dalam sebuah pertarungan Pilkada melainkan dirinya sendiri. “Bukan partai yang memenangkan tapi anda sendiri. Kita ini gotong royong,” kata Mega.

Dirinya mencontohkan seorang pemimpin yang menjadi teladan adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Risma pun turut hadir dalam sekolah kepala daerah yang digelar PDI Perjuangan.

“Saya mencari orang yang baik berdasarkan fit n propert test. Coba lihat rahasia Bu Risma, dia bisa sukses memimpin daerah seperti sekarang apa rahasianya. Saya pun pernah lihat isi mobil bu Risma, ternyata ada gunting, cangkul, toa dan perkakas. Ternyata bu Risma memulai aktivitasnya juga selalu mencari orang miskin untuk diberi makanan,” paparnya.

Dia pun mengingatkan kepada seluruh calon kepala daerah agar jangan pernah berpikir untuk menggunakan APBD untuk kepentingan sendiri. “Kalau mau kayak gitu nggak perlu jadi bupati, lebih baik jadi pengusaha saja,” tandasnya.

Sementara itu Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan perlu waktu dan pendekatan untuk mengubah wilayah menjadi baik.

“Sekarang ini semua sekolah di Surabaya gratis. Baik negeri maupun swasta diberi fasilitas yang sama dan itu diluar biaya fisik. Internet gratis, kesehatan gratis siapapun bisa mendapatkannya, ” tuturnya.

Dia mengungkapkan bagi lansia miskin juga diberi makan setiap hari. “Baik itu lansia, anak yatim, orang cacat, semua mendapat makanan gratis. Mobil ambulance dan mobil jenazah juga gratis. Di Surabaya nggak ada pengemis,” ungkap Risma.

Politisi PDIP tersebut pun berhasil mengubah image kampung nelayan yang dulu dikenal sebagai permukiman kumuh. “Ubah image kampung nelayan, kini setelah berhasil diubah baik dari tatanan kampungnya yang lebih rapi dan sehat. Setelah berubah image, tingkat perekonomian pun di wilayah itu meningkat. Padahal dulu saya digembor-gemborkan mau gusur kampung nelayan,” ucapnya.

Menurutnya banyak anak muda di Surabaya yang kini tertarik menjadi petani. “Ini dikarenakan sayuran yang dihasilkan organik. Dulu tanah di Surabaya nggak bisa ditanami selada, tapi sekarang berbeda keadaanya. Dulu inflasi sayuran tinggi sekali tapi ketika warga sudah menanam sayur sendiri sekarang nggak ada inflasi,” tutup Risma.

Sejumlah tokoh dan Wakil Pimpinan redaksi media nasional pun turut hadir dalam sekolah partai angkatan ke-2 tersebut. Seperti Gubernur Banten Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaifullah dan pengamat politik Siti Juhro.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here