“Nasi Bukan Bubur”

179

Gelendong  awan  kini  tengah  menggelayuti  langit   sepakbola Kabupaten Bogor. Setelah dua pemain sepakbola andalan Kabupaten Bogor   yakni  Redi  dan Ryan  terdepak  dari  tim   PON XIX Jabar  dengan alasan status Profesional.

Kini  kabar kurang bagus  harus jadi kenyataan yang  ditelan masyarakat sepakbola Kabupaten Bogor  terkait gagalnya Persikabo melakukan pertandingan tandang ke Bengkulu.

Kondisi  finansial Persikabo saat  ini  semakin mengkhawatirkan,  hal  itu terlihat  dari  tidak berangkatnya Persikabo melakoni  debut  away ke Bengkulu akhir pekan lalu dalam lanjutan turnamen  TSC Level  B .

Banyak kalangan sepakbola  di Kabupaten Bogor  menilai, kondisi  Persikabo  saat ini ibarat  nasi sudah jadi bubur.   Penulis  tidak sepaham  dengan perumpamaan  tersebuty.  Karena sebenarnya  hal itu bisa  dihindari  kalau  dari awal  managemen PT Cikeas Putra Pratama  mau memaknai  petemuan   di ruang rapat  KONI Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu .

Jika pada  waktu  itu terjadi sinergitas yang bagus, mungkin  saat ini istilah “Nasi Bukan Bubur “  bisa jadi penyelamat  krisis  financial yang melanda Persikabo

Dalam pertemuan tersebut hadir semua perwakilan elemen penting  yang tujuannya  untuk mencari solusi buat Persikabo seperti perwakilan Pemkab Bogor   H. Didi Kurnia selaku kepala   Inspektorat,  HM  Rusdi  AS  ( KONI Kabupaten Bogor ), elemen suporter,  perwakilan  dari  PT Karadenan Jaya dan perwakilan dari PT Cikeas Putra Pratama selaku pengelola  Persikabo  saat ini .

Saat ini bukan waktunya untuk menunjuk  siapa yang salah dan siapa yang benar , tidak pantas juga mencari kambing hitam dari persoalan ini. Apalagi  kambing  hitam yang sesungguhnya  harganya kian mahal  saja  di saat musim haji .

Solusi  yang harus dilakukan adalah  segera melakukan mediasi  semua elemen  yang memang mencintai Persikabo  tanpa  saling menyalahkan, tanpa saling menuding   dan tanpa  mencari  cari kesalahan baru   atau membuka  kesalahan  yang lalu .

Tidak perlu debat  kusir atau  diskusi  begono  begini  di warung  kopi, karena akan membuat bête pemilik  warung , apalagi  kalau ujung ujungnya kasbon dulu .

Semua  harus duduk bareng  mencari jalan keluar  agar yang namanya  Nasi harus  tetap Nasi , karena  secara  fisik  Nasi  Buka  Bubur,    fisik Nasi beda dengan fisik bubur , walaupun sama sama berasal  dari beras .

Silahkan  terjemahkan paparan ini  dengan pemikiran  jernih  dan hati  bersih. Tanpa  ada kecurigaan  satu sama lain.  Semua harus berpikir  positif, dan  bisa merasakan rasanya  nasi  yang tidak  terasa  basi  di lidah .

Penulis tidak punya tendensi apapun dalam konteks  ini.  Penulis hanya berharap “Payung Hitam “ segera menjauh dari langit sepakbola  Kabupaten Bogor.

Jika air mata ini bisa  bicara, mungkin beribu tanggalan  di almanak  yang harus jadi editornya untuk menterjemahkan  tiap  satu titik air mata.

Mengurusi  sepakbola di tanah air masih  jauh dari yang namanya untung.  Banyak klub  profesional di tanah air ataupun di tingkat dunia pun  yang terjebak  dalam badai krisis , banyak pula  pemilik klub  di  dataran eropa  ataupun ditanah air  yang sadar diri karena sudah tak kuat membiayai klubnya,  akhirnya  melego  atau  melakukan  merger  klubnya  tersebut kepada pemodal yang berduit.

Apalagi kalau managemennya tidak menguasai  ilmu managerial dengan bagus , maka uang segunung pun  akan habis,  entah kemana habisnya ? entah kenapa habisnya ?   yang jelas potret  tersebut  acap kali menimbulkan fitnah  dari  orang-orang yang punya pemikiran sempit dan mengedepankan sentimen pribadi .

Untuk penyelamatan sebuah klub sepakbola  dari  sebuah  krisis , sudah saatnya semua elemen tidak   mengedepankan  ego pribadi , tidak boleh merasa paling berjasa atau berkuasa, karena tidak menutup kemungkinan masih ada elemen lain yang punya  jasa  LEBIH  besar namun  tidak mau ditonjolkan.

Semua harus bersinergi,  semua harus  satu visi  agar  atmosfir sepakbolanya kembali sehat.

Mari kita semua meraba diri,  siapa kita,  siapa kamu ,  dan siapa aku  yang  semuanya harus bermuara pada satu visi agar semuanya  tetap  harmoni dalam irama kebersamaan. (****)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here