NMI Minta FDS Dievaluasi

249

Margonda | Jurnal Depok
Mantan Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail (NMI) turut menghadiri peringatan HUT Proklamasi RI yang ke 71 di Balaikota Depok. Tanpa ditemani sang istri, Nur Azizah Tahmid, mantan walikota dari Partai PKS itu tampak penuh semangat. Ia pun berbagi cerita mengenai makna kemerdekaan bagi dirinya.

“Makna kemerdekaan bagi saya yakni mampu mengisi kemerdekaan yang diharapkan bisa melindungi warga, bisa membawa bangsa Indonesia menjadi lebih produktif, bisa melindungi wilayah yang terancam oleh orang-orang yang mungkin tak suka dengan Indonesia,” ujarnya kemarin.

Nur yang menjabat sebagai Walikota Depok selama dua periode itu mengungkapkan jika Depok sudah bisa dikatakan merdeka.

“Jika dari kesejahteraannya selama saya di Depok nggak menemukan orang kelaparan. Kesejahteraan Depok di atas rata-rata, tinggal bagaimana mereka memaknainya dan mengarahkan kecukupan gizinya tepat atau tidak,” jelasnya.

Ia pun berkomentar mengenai nilai-nilai bangsa yang kini mulai luntur seiring dengan berkembangnya arus globalisasi.

“Sebenarnya media sosial mempunyai fungsi yang strategis karena melalui medsos ini nilai-nilai tersebut bisa dimunculkan lagi. Dengan medsos perasaan psikologi seseorang bisa diekspresikan. Saya mengapreasisi para pendidik yang menerapkan metode home schooling karena saya menemukan dengan metode pendidikan yang seperti itu, bisa menseleksi anak mau berbuat apa untuk bangsa dan negara. Saya apresiasi kepada metode pendidikan yang bisa menjaga karakter bangsa,” papar Nur.

Terkait wacana Full Day School, menurut mantan Presiden PKS itu hal tersebut sangat bagus. Ia menuturkan  standar pendidikan yang lebih lama itu lebih bagus namun hal tersebut harus dilihat pula kesiapan sarana prasarana sekolah.

“Saya merasa kemungkinan FDS akan terganjal di beberapa kota-kota besar karena lembaga pendidikan dan gedung pendidikan banyak dipakai double artinya dipakai siang dan sore. Namun kalau di tempat pendidikan seperti di kabupaten, saya menemukan sarana yang bisa digunakan untuk FDS asal para pendidik rela dan ikhlas menjalankan FDS,” ucapnya.

Untuk penerapan FDS di Depok, Nur memilih tidak berkomentar banyak. “Saya nggak berani berkomentar. Silahkan dievaluasi kecukupan fasilitasnya. Kalau memang cukup fasilitasnya ya digerakkan. Di Depok FDS pun sebenarnya banyak. Yang paling penting sekarang fasilitasnya itu tersedia atau tidak. Kemudian tenaga pendidiknya siap mental atau tidak,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here