Pabrik ‘Bikini’ Digrebek

248

Sawangan | Jurnal Depok
Pabrik makanan ringan bihun kekinian (bikini) di Sawangan Depok digerebek oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung. Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah mewah yang ada di Sawangan Depok. Rumah mewah itu merupakan pabrik makanan ringan dengan nama bihun kekinian (bikini) yang saat ini menjadi kontroversi. BPOM didampingi oleh Unit Reskrim Polresta Depok dalam melakukan penyelidikan.

Di rumah mewah di Jalan Masjid Sawangan, pembuatan makanan ini dilakukan di lantai tiga. Pembuatnya adalah TW, 19 seorang mahasiswi yang dibantu beberapa temannya.

Kanit PPA Polresta Depok AKP Elly Padiansari mengatakan sekali produksi pelaku bisa menghasilkan ribuan bungkus. Untuk penjualannya dilakukan dengan sistem tersendiri. “Katanya pemasarannya via online,” kata Elly.

Penemuan ini pun masih terus didalami. Penuturan sementara bungkusnya itu hasil imajinasi produsen. Cemilan bikini pertama kali diproduksi pada tahun 2015 dan hanya berjalan sebentar. Usaha tersebut baru dijalankan kembalipada 2016. “Baru tiga bulan berjalan di tahun 2016,” jelasnya.

TW memang tidak menjual cemilan tersebut di warung atau toko modern. Penjualan dilakukan memanfaatkan media online. TW menjual cemilan bikini dengan akun instagram miliknya. Karena kemasan yang menarik, cemilan ini pun banyak dipesan. Harga per bungkus dijual Rp 15-20ribu. Cemilan ini sudah tersebar di Semarang, Bandung, Jakarta, dan Palembang.

“Sampai sekarang total pesannanya sudah 6000 bungkus,” ujarnya.

TW sendiri tidak ditahan oleh polisi karena belum ditemukan unsur pidana. Dia hanya dimintai keterangan perihal gambar dalam kemasan yang dianggap vulgar.

“Masih dalam proses, belum ditemukan unsur pidana,” kata Wakil Kapolresta Depok AKBP Candra Kumara.

Sementara itu TW dalam keterangan resminya mengatakan dirinya tidak ada niat mengarah pada unsur pornografi. Diceritakan, awal dibuat nama bikini itu tercetur begitu saja. Dari sisi design tidak ada sedikitpun terpikir kalau itu termasuk pornografi. “Saya dan teman-teman berpikir bikini itu nama baju renang. Jadi tidak menyangka kalau namanya dipikir tidak senonoh,” katanya.

Terkait gambar, TW menjelaskan, itu hanya menyesuaikan nama cemilannya. Karena namanya bikini maka digunakan pakaian renang seperti dalam gambar kemasan.

“Dan disitu kami tetap memasukan gambar mie yang sedang dipegang itu, dan slogan “remas aku”diberikan oleh guru saya yang juga mengajarkan materi untuk marketing dan idenya,” ungkapnya.

Kata “remas aku” juga bukan bertujuan untuk meremas dada yang ada di gambar tersebut yang orang-orang mengartikan seperti itu. Kata “remas aku” pun dimaksudkan meremas isi kemasan tersebut sebelum dimakan.
Soal soal kata “remas aku” itu digambarkan kearah snack  yang dipegang oleh gambar di packaging

Awal produksi saat masih menjalankan project berlokasi di salah satu kosan TW dan tim di daerah Geger Kalong, Bandung. Saat project berlangsung pun bikini hanya keluar sekitar 2.100 kemasan saja. Menurutnya, rata-rata orang yang membelinya karena penasaran dengan “bihun goreng”. TW dan tim pun kebanjiran pesanan dan setelah project selesai ternyata masih banyak yang ingin membeli produk.

“Akhirnya kami putuskan untuk menjual brand tersebut ke kakak salah satu team kami,” paparnya.

Setelah dibeli tidak ada produksi lagi karena belum ada yang mengerjakannya. Kemudian merk dagang itu dibeli kembali. TW pun mengelola usaha tersebut pada tahun 2016. Setelah beberapa bulan masih belum produksi. Akhirnya memulai produksi lagi pada bulan April tetapi hanya 1000 pcs.

“Setelah itu pada bulan Juni mulailah produksi lumayan besar sekitar 10.000 kemasan. Tetapi diproduksi tidak sekaligus perbulan hanya keluar 2.000 kemasan saja. Dan sampai bulan Agustus ini yang habis terjual hanya 6.000 kemsan saja,” tandasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here