Bikinian Bikin Resah

385

bikinianMargonda | Jurnal Depok
Kudapan bihun tak hanya disukai kalangan dewasa, tua muda menyukai pangan berbahan dasar tepung beras tersebut. Namun belakangan ini masyarakat Indonesia khususnya orang tua diresahkan dengan adanya makanan bihun kekinian yang disingkat ‘bikinian’. Makanan ringan berupa bihun yang dikeringkan itu semakin gempar dengan tampilan berbau pornografi berupa pakaian bikini wanita bermotif polkadot dan terdapat kata remas aku.

Berdasarkan informasi kudapan tersebut keluaran produksi Cemilindo, Bandung Indonesia. Makanan ringan bikinian itu kini juga marak dijual di media sosial seperti instagram dan online shop.

Hingga saat ini, bikini snack dikabarkan sudah masuk ke Serang, Malang, Jambi, Bali, Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Lampung, Bekasi, Purwokerto, Pekanbaru, Cirebon, Sukabumi, Depok dan Madiun.

Menanggapi beredarnya makanan ringan yang menjurus ke arah pornografi itu, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia
Reza Indragiri Amriel mengatakan

“Dari perspektif kampanye komersial, nama-nama tersebut sudah sempurna ya. Namun tanpa sadar penamaan sedemikian rupa mencerminkan menurunnya kepekaan kita terhadap nilai sakral tubuh manusia,” ujarnya kemarin.

Ia mencontohkan sebenarnya ada nama makanan yang tidak kalah vulgar selain bikinian yakni rawon setan. “Namun rawon setan masih bisa tertoleransikan.
Persepsi orang-orang dewasa akan integritas tubuh (body integrity) sudah menyimpang jauh. Tak aneh jika persepsi anak akan hal yang sama juga akan terdistorsi,” ungkap Reza.

Dirinya menjelaskan adanya nama makanan yang berbau pornografi itu tentu merusak kognitif anak. “Saat ini boleh jafi baru sebatas kognitif anak yang dirusak. Tapi itu pintu masuk bagi afeksi dan motorik, di mana anak-anak tidak ragu lagi menampilkan tindak-tanduk yanh jauh dari integritas tubuh yang sepatutnya. Mulai dari gaya berbusana, gaya berelasi antarjenis kelamin, hubungan seksual pra-nikah, dan lain-lain,” jelasnya.

Dia pun semakin menyayangkan karena pada tampilan makanan ringan itu terdapat pula logo halal. “Kalau dilihat di pojok kanan atas kemasan ada tulisan halan. Nah halal terkerdilkan menjadi sebatas bahan baku produk di dalam kemasan. Bukan pada keseluruhan produk. Andai produsen tersebut berupaya mendapat sertifikat halal resmi, saya berharap MUI tidak meloloskannya,” tegas Reza.

Menurutnya sebelum makanan ringan tersebut tersebar di kalangan masyarakat diperlukan pengawasan dan sensor terlebih dahulu oleh pihak-pihak terkait.

“Produk pangan harus lewat BPOM, MUI, Kemenkes, Kemindag, dan lain-lain. Semestinya ada sensor yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait, termasuk terhadap penamaan produk sedemikian rupa,” pungkasnya.

Salah satu orang tua, Sopiah (45) mengaku resah dengan maraknya makanan yang menjurus pornografi itu. Warga Cimanggis tersebut berharap pemerintah dapat menarik kembali makanan ringan tersebut.

“Ditarik saja, jangan diedarkan. Judulnya saja sudah meresahkan kemudian ada tampilan gambar bikini seksi seperti itu. Anak saya masih SD kelas 4. Ngeri banget kalau dia dan teman-temannya makan sambil melihat kemasannya. Bahaya sekali itu,” ucapnya.

Hal senada diucapkan Dani (33). Warga Beji itu mengaku khawatir adanya makanan yang sedang hits itu. “Anak saya sih belum ada laporan ke saya kalau jajan itu. Tapi kan sebagai orangtua nggak bisa mengawasi di sekolah snack apa yang dimakan. Saya harap pemerintah bisa segera menarik kembali makanan ringan itu,” tandasnya.nNur Komalasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here