Jelang Pemilu, Polresta Depok Perangi Hoax

Wakil Walikota, Kapolresta Depok beserta stake holder foto bersama saat acara FGD

Margonda | jurnaldepok.id
Guna menjaga situasi dan kondisi tetap kondusif jelang pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 terutama dari berita hoax, jajaran Polresta Depok menggelar
Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Peran Serta Potensi Masyarakat Dalam Memerangi Hoax dan Radikalisme Agar Tercipta Pemilu 2019 Yang Aman, Damai dan Sejuk di Wilayah Kota Depok”.

Kapolresta Depok, Kombespol Didik Sugiarto mengatakan FGD digelar dalam rangka mengantisipasi isu hoax, dalam Pemilihan Umum (Pemilu) baik Pilpres dan Pileg 2019, untuk mewujudkan Pemeliharaan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Harkamtibmas) yang kondusif di wilayah Kota Depok.

Dia mengatakan, pada kondisi menjelang pelaksanaan pesta demokrasi akbar ini, situasi politik akan semakin menghangat, sehingga jika masyarakat mudah terpengaruh dengan isu hoax, maka bisa memanaskan situasi, bahkan memicu terjadinya chaos atau kekacauan.

“Oleh sebab itu, kami imbau masyarakat harus cerdas dan berkepala dingin ketika menerima informasi yang semakin santer melalui media sosial, baik FB, WA dan sebagaianya,” ujarnya, Selasa (19/3).

Dia mengatakan, karena dengan kemajuan Iptek saat ini, foto maupun video yang disebar bisa melalui editing terlebih dulu, dan dikhawatirkan bertujuan menjatuhkan nama baik seseorang.

“Dengan maraknya pengguna media sosial, banyak orang yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan berita negatif, ujaran kebencian pada kelompok tertentu, mengadu domba kerukunan antar umat beragama, menjelek-jelekkan kelompok yang lain,” paparnya.

Persoalan ini, lanjutnya, harus menjadi perhatian serius, jangan sampai sosial media dijadikan alat saling serang antar organisasi, suku, ras dan agama dan hal lain yang dilarang oleh undang-undang.

Sementara itu Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna menambahkan,
kegiatan tersebut juga memberi dukungan terhadap Polres Kota Depok dalam upaya pencegahan hoax dan radikalisme.

Sebab di era digital ini, tidak ada lagi batasan bagi masyarakat untuk mengakses informasi, bahkan ke luar negeri. Sehingga penyebaran informasi sangat cepat sekali.

“Dengan mudahnya akses informasi, maka secara tidak langsung isu hoax juga semakin cepat penyebarannya,” tandasnya.

Untuk menanggulangi hal itu, kata dia, harus dimulai dari lingkungan keluarga dulu, antara ayah, ibu dan anak saling mengingatkan agar tidak dengan mudah mencerna informasi yang diterima.

Bahkan dulu dirinya sempat menjadi korban oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan hoax dirinya.
“Akan tetapi harus lebih teliti dan mencari rujukan informasi tersebut pada media yang terpercaya, jangan yang hanya katanya saja,” pungkasnya. n CR1-JD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here