Pro Kontra Ujian Nasional

0
91
Ma'mun Ridwan

Bojongsari | jurnaldepok.id
Konsep Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dikritisi oleh praktisi pendidikan, H Ma’mun Ibnu Ridwan. Pasalnya, Ujian Nasional atau UNBK saat ini terkesan hanya formalitas saja dikarenakan nilai UN tak lagi menjadi syarat kelulusan siswa.

“Konsep UNBK saat ini jadi kehilangan semangat, anak-anak jadi tak semangat ikut UN, karena berapa pun nilainya nanti siswa dapat dipastikan lulus,” ujar Ma’mun kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dengan begitu, sambungnya, sulit untuk menunjukkan sekolah unggul dan berprestasi.



“Jadi bukan lagi menjadi persyaratan masuk sekolah negeri. Memang hal tertentu diuntungkan, tapi tak semua skolah swasta, tapi swasta yang harus di atas negeri, mayoritas negeri sarananya diatas swasta,” paparnya.

Ma’mun yang juga menjabat sebagai Direktur Sekolah Amec mengungkapkan, dengan dihapusnya kebijakan nilai kelulusan UN berdampak pada nilai kompetisi akademik yang menjadi rendah.

“Dengan begitu sekolah swasta menengah kebawah siap-siap gulung tikar, karena hanya bisa menampung siswa miskin. Harusnya UNBK dikembalikan ke sekolah masing-masing jika memang tak lagi menentukan masuk sekolah negeri, itu akan mengurangi beban biaya negara,” ungkapnya.

Dirinya tidak mengharapkan jangan sampai asik semua bisa sekolah, tapi mutu pendidikan terabaikan baik di dalam maupun luar negeri.

Sementara itu seperti dilansir dari koranjakarta, Komisioner Komisi Per¬lindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Ret¬no Listyarti, mengatakan seha¬rusnya yang menentukan lulus atau tidaknya siswa bukanlah nilai UN, melainkan guru yang mengajar atau pihak sekolah.

“Berikan kelulusan siswa pada guru yang mengajar, tidak pada UN. Berikan kepercayaan pada guru,” kata Retno saat di¬temui dalam salah satu diskusi di Gedung LBH Jakarta, Jumat (18/5/18).

Pihaknya juga tidak setuju jika nilai UN tahun ini dijadi¬kan patokan kalau siswa-siswi yang ikut UN, tidak belajar giat untuk mengerjakan soal.

“Se¬harusnya nilai UN ini dijadikan patokan kinerja pemerintah yang buruk dalam memberi¬kan pendidikan pada siswa,” katanya.

Dia mengatakan, dari peng¬aduan siswa-siswi peserta UN yang masuk, mereka sudah be¬lajar giat, namun soal yang di¬ujikan tidak pernah diajarkan ke mereka.

“Soal yang diujikan tidak pernah dilatih. Soal kemampuan berpi¬kir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS) itu ten¬tang L3 atau soal penalaran, ka¬rena pemerintah menghindari ujian L1 atau soal penghafalan dan L2 soal pemahaman. Nah, siswa itu tidak bisa menjawab karena sistem pembelajaran¬nya masih memakai sistem L1, paling mentok juga L2,” kata Retno.

Pihaknya melihat soal HOTS yang diujikan lebih implemen¬tatif dan kontekstual karena mengacu pada kehidupan se¬hari-hari.

KPAI mendukung soal HOTS asal pembelajarannya juga HOTS. Sekarang bagaimana menghitung NaCL dalam bola salju? Bola salju itu tidak ada di Indonesia, itu adanya di Eropa, bagaimana bisa siswa menger¬jakan soal itu?.

“Kami menduga pembuat soal asal comot saja soal itu,” tandasnya.

Begitu juga dengan soal HOTS untuk siswa-siswi SMP. Soal yang diujikan itu ternyata materi ujian untuk siswa-siswi sekelas SMA.

“Ada anak SMP yang lapor sendiri ke KPAI. Ke¬tika didalami, siswa SMP itu bi¬lang, kalau kakaknya yang SMA bilang kalau soal itu untuk SMA dan bukan SMP,” ujar Retno.

Demikian juga ada anak SMP yang ikut les privat dan oleh guru privatnya dibilang itu soal untuk anak SMA.

“Ka¬rena itu kalau mau transparan, undang KPAI untuk bahas soal soal itu,” kata Retno.

Retno sangat prihatin de¬ngan kondisi tersebut. Sebab, siswa tidak pernah dilatih HOTS, tapi disuruh menger¬jakan soal HOTS.

“Ibaratnya dilatih terbang malah diuji de¬ngan renang, karena itu, nilai¬nya jelek,” tukas dia.

Koordinator Ujian Nasional Badan Standar Nasional Pen¬didikan (BSNP), Tengku Ramly Zakaria mengatakan, UN di¬butuhkan untuk mengukur pencapaian standar nasional pendidikan, mendorong siswa belajar dan guru mengajar le¬bih baik, juga mendorong serta membantu satuan pendidikan dalam peningkatan mutu pen¬didikan. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here