Nuroji Sebut Depok Kota Bertoleransi

Anggota Komisi X DPR RI,Nroji saat menghadiri perayaan Imlek di wilayah Limo

Limo | jurnaldepok.id
Anggota Komisi X DPR RI, Ir Nuroji mengungkapkan Kota Depok merupakan salah satu kota yang bertoleransi tinggi, dimana warganya satu sama lain saling menghargai.
Perkataan itu dikatakan Nuroji saat menghadiri kegiatan perayaan Imlek 2570 di lingkungan Kampung Pulo Mangga, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo.

Dia mengatakan, Kota Depok toleransinya sangat tinggi saling menghargai satu sama lain dalam menghargai perayaan hari raya keagamaan.

“Disini Kampung Pulo Mangga ada warga Tionghoa yang sudah lama ada dan mereka berbaur dengan warga lainnya dan ini disini kita merayakan Imlek 2570,” paparnya.

Dia menambahkan, perayaan Imlek 2570 dengan tema Merajut Kebhinekaan Memperkuat Persatuan salah satunya dengan menggelar budaya dan musik tradisional.

“Dengan seni dan budaya mempersatukan kita tanpa membeda-bedakan satu sama lain, diisini kita bicarakan budaya dan seni, Merajut Kebhinekaan Memperkuat Persatuan,”katanya.

Di wilayah Kampung Pulo Mangga terdapat warga keturunan Tionghoa yang sudah turun temurun hidup berbaur satu sama lain. Masyarakat di kampung ini sebagian besar keturunan Cina (Tionghoa).

Tetapi uniknya wajah mereka tidak lagi seperti kebanyakan orang Cina, yaitu mata sipit dan berkulit kuning langsat. Mereka yang ada di Kampung Pulo Mangga berkulit sawo matang.

“Bila kita bertemu dengan mereka, kita pasti tidak menyangka kalau mereka keturunan Cina sebab wajah mereka layaknya wajah masyarakat pribumi. Ironisnya lagi, mereka sudah tidak tahu asal muasal leluhurnya bahkan mereka juga tidak bisa berbahasa Cina,” ungkapnya.

Meski tidak terlihat sebagai daerah pecinan, tetapi masyarakatnya masih memegang kuat tradisi leluhur.

“Di pintu bagian depan rumah mereka masih ditemukan dupa yang berisi hio berwarna merah dan di dalam rumah juga ditemui adanya meja persembahan (meja altar),” jelasnya.

Sementara itu salah satu tokoh masyarakat Tionghoa, Zaina Arifin atau Cenglu menambahkan di kampung nya tercatat ada puluhan keluarga keturunan Tionghoa.

Sebagian besar dari mereka sudah kawin dengan orang pribumi sehingga ada yang memeluk agama Kristen dan Islam, tetapi ada pula yang menganut Konghucu.

Dia menambahkan, asal usul perayaan Tahun Baru Imlek sesungguhnya adalah untuk merayakan datangnya musim semi di daratan Tiongkok.

Perayaan ini diisi dengan rangkaian kegiatan berupa doa, berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat dan para sahabat dan acara dihadiri oleh anggota DPR RI Nuroji.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Nuroji yang sudah datang dan berbaur dengan warga kami pada gelar budaya Imlek 2570,” jelasnya.

Berbagai simbol dan tradisi yang sering terlihat pada saat Tahun Baru Imlek ini, masing-masing memiliki makna sebagai pembawa keberuntungan dan harapan baik untuk tahun mendatang.

Perayaan Imlek Nasional 2019 dengan tema “Merajut Kebinekaan Memperkokoh Persatuan” adalah wujud dari tindakan dan komitmen Warga Negara Indonesia Tionghoa untuk tetap bersatu dalam kebinekaan Indonesia.

“Disini memang sebagian besar warga keturunan, dan kami hidup rukun sudah berbaur dengan warga pribumi asli,” katanya.

Menurutnya, perayaan imlek sama hal nya seperti hari raya Lebaran yang dirayakan oleh umat muslim. Seperti membuat kue dan berkunjung kerumah sanak saudara, dengan tahun baru Imlek 2570 ini diharapkan umat akan lebih baik dibanding sebelumnya.

“Kita harus sadar bahwa Tuhan Yang Maha Esa sejak awal menciptakan Indonesia ini dengan rasa cinta kasih sebagai suatu bukti negara kita ini,” pungkasnya. n CR1-JD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here