Terkait Uang Konsinyasi Tol Desari, Oknum Pejabat Siap-Siap Dibui

Korban Tol Desari saat menduduki proyek pengerjaan jalan tol

Limo | jurnaldepok.id
Sejumlah oknum pejabat yang terlibat penyerahan uang Konsinyasi Tol Desari sebesar Rp 129 milyar kepada salah satu pihak bersengketa kini tengah ketar ketir menanti penyelesaian sengketa antara para pemilik lahan Girik 675a dengan Megapolitan selaku pemegang 7 SHGB yang tumpang tindih dengan Girik 675a.

Salah satu pemilik lahan Girik C 675a, Sunaryo Pranoto mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan manuver dan berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait ditingkat pusat guna memastikan uang konsinyasi tol masih berada di Pengadilan Negeri (PN) Depok untuk kemudian diserahkan kepada pemilik Girik Letter C 675a sebagai pihak yang paling berhak menerima pembayaran uang ganti kerugian (UGK) Tol Desari seluas 4,8 diwilayah Rw 04 dan 05 Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo.

“Sebelum ada penjelasan resmi dari Pengadilan Negeri (PN) Depok, kami menganggap uang konsinyasi itu masih berada ditangan Pengadilan, tapi jika uang itu ternyata sudah diserahkan kepada salah satu pihak bersengketa maka siap-siap saja para oknum yang mensetting penyerahan uang konsinyasi itu masuk penjara lantaran telah menyalahgunakan wewenang yang mengakibatkan kerugian pada pihak bersengketa lainnya. Jika hal itu sampai terjadi maka sudah kami siapkan langkah hukum untuk menjerat para pelaku skandal uang konsinyasi itu, ” papar Sunaryo, kemarin.

Pernyataan senada dilontarkan oleh Husen Sanjaya salah satu ahli waris pemilik lahan Girik Letter C 675a.

“Kami sudah siap memblow up kasus ini sampai ketingkat Nasional, baik secara hukum maupun pergerakan secara fisik di lapangan. Saat itu tim kuasa hukum sedang berkoordinasi dengan BPN dan PN guna memastikan soal uang konsinyasi itu. Jika dalam waktu dekat ini belum juga ada kejelasan atau pihak kami dirugikan, maka kami akan memperkarakan semua pihak yang bermain pada proses penyerahan uang konsinyasi dan penerbitan tujuh sertifikat hak guna bangun (HGB) diatas lahan Girik Letter C 675a, ” tandas Husen.

Dia menambahkan, berbagai upaya persuasif telah mereka lakukan untuk mendapatkan hak selaku pemilik lahan terkena tol. Namun, lanjut dia, sepertinya masih ada pihak yang enggan merelakan uang konsinyasi itu jatuh kepada pihaknya selaku pemilik Girik Letter C 675a.

“Kayaknya masih ada yang belum rela kalau uang konsinyasi tol itu diserahkan kepada kami dan itu yang membuat permasalahan ini masih berlarut-larut sampai sekarang belum terselesaikan,” pungkasnya. n Asti Ediawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here