Uang Koperasi Guru Diduga Dikorupsi

Anggota Koperasi Guru SD Bojongsari saat menyusun rencana terkait dugaan uang koperasi milik mereka yang tak jelas keberadaannya

Bojongsari | jurnaldepok.id
Ratusan anggota Koperasi Guru SD se Kecamatan Bojongsari mendesak kepada ketua dan pengurus koperasi agar segera mengembalikan uang simpanan mereka senilai Rp 950 juta lebih.
Pasalnya, sudah dua tahun koperasi tidak aktif dan uang simpanan mereka tak jelas hingga saat ini.

Mereka menduga uang simpanan ratusan guru tersebut dipakai bahkan dikorupsi oleh ketua, sekretaris dan bendahara (KSB) koperasi, lantaran hingga saat ini uang tersebut tidak dikembalikan kepada anggota koperasi.

“Anggota koperasi sebanyak 170 orang dengan jumlah asset sebesar Rp 2 miliar. Adapun simpanan murni anggota sebesar Rp 950 juta, uang tersebut ada ditangan KSB, sisanya kurang lebih Rp 1 miliar ditangan anggota dalam bentuk pinjaman,” ujar Syafrudin, Ketua Forum Koperasi Guru Bojongsari, Senin (21/1).

Ia menambahkan, bahwa seluruh anggota koperasi menuntut uang simpanan mereka dikembalikan sepenuhnya. Meski pertemuan sudah direncanakan antara anggota dan pengurus koperasi, namun hal itu tidak terealisasi.

“Pertemuan gagal terus, kami ingin Kamis esok ada pertmuan dan keputusan yang kami terima, kalau sampai tidak ada kepastian kami akan laporkan ke polisi,” paparnya.

Ia menjelaskan, kondisi koperasi telah vakum selama dua tahun terakhir ini. Setelah stahun vakum, para guru meminta kejelasan terkait keberadaan uang simpanan mereka.

“Ketua dan bendahara ini merangkap jabatan, yang lainnya enggak berperan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, simpanan anggota koperasi nilainya bervariasi mulai dari jutaan, belasan juta bahkan sampai ada yang puluhan juta.

“Simpanan paling besar Rp 27 juta karena anggota tersebut menyimpan terus dan tidak pernah meminjam,” katanya.

Tidak sehatnya koperasi mulai terkuak pada akhir 2016 lalu. Di mana pada saat itu kegiatan RAT dibarengi dengan pemilihan ketua koperasi yang disinyalir untuk menghindari adanya laporan keuangan pada RAT.

“Pemilihan ketua ini sebenernya menyalahi aturan, tidak seharunya dibarengi dengan kegiatan RAT secara bersamaan waktunya. Dalam RAT itu tidak ada penympaian terkait masalah koperasi, sementara SHU yang diberikan hanya sampai 2015/2016, sedangkan setelah itu SHU tidak ada lagi,” jelasnya.

Tak hanya itu, Syafrudin yang kemarin ditemani oleh anggota koperasi, Ujang Sudirman dan tiga orang rekannya menduga uang tersebut telah dipakai oleh pengurus dalam hal ini KSB.

“Ini juga merupakan kesalahan dan kegagalan total pengawas koperasi yang trdiri dari tiga orang. Seharusnya pengawas mampu mengawasi secara priodik terkait kondisi koperasi,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here