Kasus Ace Dan Begal Payudara Belum Terungkap

0
64
Kombes Pol Didik Sugiarto

Margonda | jurnaldepok.id
Kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa jurusan Biologi Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) hingga kini masih belum menemukan titik terang. Kematiannya sudah tiga tahun berselang namun hingga kini polisi belum menangkap siapa pelaku pembunuhan Ace, sapaan akrabnya. Mahasiswa yang dikenal pendiam itu ditemukan tewas di Danau UI pada tahun 2015.

Saat ditemukan, petugas menemukan batu di dalam tas ransel warna hitam yang dibawanya. Selain itu, terdapat luka lebam pada kepala dan tubuh. Diduga, korban mengalami pembunuhan.

Hingga kini penyidik mengaku masih terus melakukan pendalaman atas kasus tersebut. Bahkan ditargetkan kasus tersebut akan segera terungkap.



“Yang jelas Akseyna menjadi salah satu PR Polresta Depok untuk dibuat menjadi jelas,” kata Kapolresta Depok, Kombes Pol Didik Sugiarto.

Menurutnya, proses penyelidikan masih berjalan dan terus dilakukan berkoordinasi dengan Tim Polda Metro Jaya.

“Ini akan kami tindak lanjuti, juga termasuk semua kasus yang di 2018 belum terungkap, di tahun 2019 kami upayakan langkah – langkah pengungkapan,” bebernya.

Sejumlah kasus yang juga belum terselesaikan sebanyak 13 perkara. Beberapa diantaranya cukup menyita perhatian publik seperti insiden pelecehan seksual disertai penganiayaan yang dialami seorang mahasiswi bernisial AT (20).

Mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta Depok ini, menjadi korban remas payudara di kawasan Gang Jengkol, Kecamatan Cimanggis, pada Minggu 15 Juli 2018.

Selanjutnya tak kalah menarik yaitu peristiwa pelemparan batu yang dialami Raffa Ismail Fahrezi (9) di Jalan RAya Juanda Kota Depok pada malam, 15 Juni 2018.

Bocah kecil ini, mengalami luka – luka yang cukup parah dibagian wajah hingga harus menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Diketahui, Polisi telah merilis wajah terduga pelaku, dengan ciri-ciri laki-laki berusia 40-42 tahun, tinggi sekira 173 sentimeter, dan berat badan sekira 60-90 kilogram. Pelaku memiliki warna rambut hitam, kulit sawo matang dengan bentuk wajah segi empat. Namun hingga kini, sejumlah kasus tersebut belum juga terungkap.

Namun di tahun 2018, Polresta Depok menerima sekitar kurang lebih 2.054 kasus tindak pidana. Sejumlah kasus yang dominan terjadi adalah curanmor, curas dan curat. Jumlah kasus di tahun 2018 berkurang bila dibandingkan tahun sebelumnya yang terhitung mencapai 2.777 kasus.

“Untuk tahun 2018 ini, Alhamdulillah peristiwa kejahatan menurun dibandingkan tahun lalu sekitar 26 persen,” katanya.

Didik menerangkan, adapun kejadian kriminal yang terjadi pada tahun ini, jumlah kasus yang berhasil diungkap ada sebanyak 1.752 kasus dengan barang bukti yang diamankan 7 buah senjata tajam, 37 hand phone, 922 botol minuman keras dan uang tunai Rp 19.648.500.
Selain itu, ada sembilan unit motor dan satu unit mobil hasil tindak pidana kriminal umum. sedangkan sisanya telah dilimpahkan ke pengadilan karena proses sidang.

“Empat kasus yang paling sering terjadi adalah pencurian dengan kekeran, pencurian dengan pemberatan, curanmor dan pencurian biasa. Umumnya kejahatan jalanan dan tawuran antar remaja,” tukasnya.

Sementara itu, untuk masalah penyalahgunaan narkoba di tahun 2018 diakuinya mengalami peningkatan dengan jumlah perkara sebanyak 340 kasus.

“Tahun 2017 lalu, ada sekitar 330 kasus narkoba. Tahun ini meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas sekitar 1,7 persen,” bebernya.

Namun, Didik menegaskan angka kejahatan tersebut dapat ditekan berkat adanya sinergitas yang cukup tinggi antar aparat dan pemerintah daerah serta masyarakat yang sadar hukum.

“Angka kejahatan turun tentunya tidak terlepas dari peran serta rekan-rekan TNI dan Pemda serta masyarakat. Kami rutin melakukan operasi gabungan bersama TNI dari Kodim 0508 dibantu SatpolPP khususnya pada malam-malam tertentu yang dianggap berpotensi terjadinya tindak pidana,” Paparnya.

Selanjutnya, Didik menuturkan guna menekan berbagai kejahatan di Kota Depok pihaknya bersama Pemerintah Kota dan TNI tengah mengupayakan pengadaan ruang data atau Depok City Operation Room pada 2019 mendatang.

Ruangan tersebut nantinya berfungsi untuk memantau sejumlah kamera CCTV yang disebar hampir ke sejumlah titik rawan kejahatan terutama di malam hari.

“Kami sudah berkoordinasi, untuk pemasangan CCTV nanti kami rekomendasikan beberapa wilayah yang terpantau sering terjadi aksi kejahatan,” pungkasnya. n CR1-JD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here