Naik Pesawat Murah untuk Efisiensi

0
72
Pradi Supriatna

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna turut menyampaikan duka yang mendalam bagi keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Jakarta-Pangkal Pinang di Teluk Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10).

Ia pun menceritakan dalam menjalankan tugas ke luar daerah, orang nomor dua di Kota Depok itu pun sering menggunakan transportasi udara. Di mana setiap kali menjalankan tugas, para pegwai maupun pejabat daerah biasanya dibekali biaya transpot yang tertuang dalam Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).

Ketika ditanya mengenai SPPD itu, Pradi menjelaskan bahwa dirinya perlu untuk melakukan efisiensi.



“Secara pribadi saya cari yang semurah-murahnya, selamat enggak selamat itu Wallahu A’lam Bishawab, mau yang bagus juga kalau enggak selamet ya gak selamet,” ujar Pradi kepada Jurnal Depok, Selasa (30/10).

Dikatakannya, bahwa dirinya lebih bicara kepada efisiensi ditengah kondisi keuangan daerah yang betul-betul anggaran harus sesuai dan tepat sasaran.

Sebagai pelayan masyarakat, sambungnya, hendaknya bisa mengoptimalisasi keuangan yang ada untuk meminimalisir pengeluaran yang sifatnya tidak terlalu produktif.

“Segala sesuatu kalau tidak keluar dari konstitusi maupun aturan, maka semuanya akan nyaman. Kalau sampai keluar dari aturan yang telah disepakati pastinya akan bermasalah. Contoh, kemarin saya dari Manado naiknya Batik Air, padahal kepala daerah. Mungkin seharusnya tidak di situ, namun demi efisiensi saya pilih yang biasa saja,”katanya.

Lain mhalnya dengan Anggota DPRD Depok, Edi Sitorus. Ia mengatakan, ketika tugas keluar kota dirinya tetap memilih standar penerbangan yang telah ditentukan.

“Kami pilih yang standar yang telah ditentukan, kecuali di suatu kota anggaran yang telah dianggarkan tidak mencukupi, maka kami harus cari pesawat yang lain,” ungkapnya.

Ketika dirinya ke luar kota namun biaya perjalanan tidak mencukupi, dirinya harus mencarai maskapai yang harganya lebih murah.

“Ada yang tidak sesuai padahal itu sudah dianggarkan, misalkan mau buat Perda dan itu adanya di Makassar di tempat yang lain tidak ada. Maka kami harus ke Makassar. Karena rating kami Garuda ternyata Garuda tidak bisa karena harganya tinggi dan anggarannya kurang, maka mau tidak mau menggunakan maskapai yang lain, dengan kata lain itu situasional,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here