Depok Siaga Bencana

0
121
Walikota didampingi Kadis PUPR saat meninjau lokasi turap yang longsor di Jalan Raya Tanah Baru beberapa waktu lalu

Sawangan | jurnaldepok.id
Walikota Depok, Mohammad Idris telah menginstruksikan dinas terkait dan berkoordinai dengan pemerintah pusat terkait antisipasi serta penanganan bencana di wilayah Kota Depok dalam menghadapi musim penghujan tahun ini.

“Termasuk kejadian tanah retak di Cimanggis kami telah berkoordinasi dan mengundang BMKG dengan Balitbang Kementerian PUPR untuk melihat retaknya tanah di sana,” ujar Idris kepada Jurnal Depok, Senin (28/10).

Dikatakan Idris, beberapa bencana telah terjadi di Depok beberapa hari lalu. Hal itu menjadi pelajaran dikarenakan bencana yang datang di luar prediksi yang semula diperkirakan musim hujan datang di November namun lebih cepat, khususnya di Bogor.



“Kami telah berkoordinasi dengan BWSCC untuk memantau beberapa titik yang memang menjadi otoritas BWSCC, terutama daerah langganan banjir kami antisipasi. Saat ini Depok masih siaga tiga, bisa saja statusnya naik menjadi dua dan satu,” paparnya.

Selain itu, pemerintah kota juga telah menganggarkan dana tanggap darurat di anggaran perubahan tahun 2018 ini.

Dikatakannya, saat ini ada sekitar 15 titik rawan longsor yang ada di Depok. Hal itu lebih disebabkan oleh pelanggaran pembangunan.

“Seperti yang di Tanah Baru memang ada bangunan yang melanggar GSS, ini memang keteledoran kami juga untuk tidak melakukan tindakkan sesuai dengan GSS, padahal kami juga sudah laporkan ke BWSCC,” katanya.

Sementara untuk titik banjir, kata dia, dari sisi penyelesaian sudah mulai berkurang. Namun pengembang perumahan masih terus berjalan. Pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap pembangunan yang dilakukan pengembang sesuai site plan dan arahan yang telah diberikan melalui Peil Banjir.

“Peil Banjir jangan sekedar dokumen semata namun benar-benar direalisasi pengembang, bahwa daerah itu aman dari banjir. Kalau di sana daerah rendah, kami minta dalam Peil Bnajir untuk menyelesaikan itu di antaranya resapan air atau biopori maupun resapan komunal untuk seluruh masyarakat di perumahan itu harus ada,” jelasnya.

Untuk titik banjir langganan, sambungnya, perlu penanganan yang komperhensip seperti Taman Duta. Untuk Taman Duta, lanjutnya, apapun yang dilakukan akan tetap banjir dikarenakan posisi perumahan lebih rendah dari posisi sungai.

“Yang harus dilakukan bagaimana aliran air dari Situ Pengarengan agar diselesaikan sesuai arahan kami kepada kontraktor jalan tol, mereka sudah berjanji untu menyelesaikan itu. Kami juga minta kepada Kementerian BUMN dan PUPR untuk bisa membuat sodetan Jalan Juanda,” terangnya.

Dijelaskannya, air dari Situ Pengarengan ke arah Kali Sugutamu agak sedikit menanjak. Artinya, kata dia, harus dibuatkan sodetan untuk mengatasi banjir di sana. n Rahmat Tarmuji

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here