Keluarga Minta Pelaku Pembunuhan Pelajar Dihukum Berat

0
62
AR, pelaku pembunuhan terhadap pelajar di wilayah Cinangka, Sawangan, saat diamankan anggota kepolisian

Sawangan | jurnaldepok.id
Masyarakat dan sanak keluarga Ali Akbar meminta agar pelaku pembunuhan yakni Ahmad Rivai atau Apay harus dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya.

Orang tua Ali Akbar, Sumarno meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan terhadap anaknya.

“Ya kami minta pelaku agar dihukum berat, dia telah menghabisi nyawa anak kami,” ujar Sumarno, kemarin.



Sumarno tidak menyangka anak sulungnya itu ditemukan tewas di pinggir Kali Ciputat, Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan pada, Sabtu (6/10).

“Kami dan keluarga sangat terpukul atas kepergian buah hati kami itu dengan sangat mengenaskan,” paparnya.

Dia mengatakan, terakhir bertemu sekitar pukul 09.30 WIB saat pulang sekolah ke rumah.

Di mana korban sudah ganti baju warna hitam, namun celana masih panjang Pramuka coklat. Korban juga sempat meminta uang jajan Rp 10 ribu untuk main. Namun uang itu belum sempat dikasih oleh Marno lantaran dia sudah keburu pergi.

“Awalnya mau pakai motor untuk main, karena tidak saya kasih mau dipakai kerja ojek. Setelah itu anak langsung keluar rumah alasannya mau main futsal sama temen-temennya,” ungkapnya.

Namun berselang kurang lebih sekitar dua jam, Marno dapat kabar jika anaknya tersebut sudah tewas.

“Tragis banget kematian anak saya dengan cara dianiaya, tidak sanggup melihat keadaan anak saat di kali, penuh darah dan urat nadi tangan kanan sudah putus,”tambahnya.

Sehari-hari, anaknya tersebut dikenal sangat pendiam dan tidak pernah macam-macam.

“Jangankan main yang tidak bener, badung (nakal) aja tidak pernah,”ungkapnya.

Selain itu Marno tidak habis pikir pelaku tega menghabisi anak satu-satunya dengan cara tidak berprikemanusian.

“Saya sudah ikhlaskan kepergian anak saya termasuk Istri. Hanya pelaku dapat dihukum seberat-beratnya atas perbuatannya kepada korban,” terangnya.

Warga lainnya, Jayadi menambahkan, keseharian pelaku AR sebagai sosok yang tertutup dan pria pegangguran.

“Sudah setahun setelah keluar kerja dari buruh pabrik Bina Karya bidang jemuran di daerah Pondok Cabe, Tangsel, kini menganggur. Selain itu, tidak ada kerjaan lagi dan lebih banyak di rumah,” katanya.

Dikatakannya, jika lagi banyak uang pelaku sering nongkrong bersama teman-temannya yang bisa dikatakan nakal.

“Antara pelaku dengan korban masih ada hubungan kelurga,” pungkasnya. n CR1-JD

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here