Terkait Persikad Ini Kata Walikota

0
221
Mohammad Idris

Margonda | jurnaldepok.id
Walikota Depok, Mohammad Idris turut mengomentari nasib klub sepak bola asal Depok yakni Persikad yang pekan lalu ratusan supporternya menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Walikota Depok.

“Persikad kan sudah menjadi PT, pemerintah dalam hal ini kepala daerah tidak boleh terlibat dalam hal kepengurusan apa lagi di klub-klub professional seperti Persikad,” ujar Idris kepada Jurnal Depok.

Ia menambahkan, bahwa Persikad bisa saja dimiliki oleh daerah lain. Seperti sebelumnya di mana Persikad diselamatkan dari Purwakarta oleh sebagian teman-teman di Depok dan dimediasi oleh beberapa perusahaan.



“Tetapi rupanya ada sedikit mis, saya enggak tahu mis apa, sehingga setelah diambil dari Purwakarta sekarang informasinya dibeli oleh satu pengusaha. Seharusnya pengusaha inilah yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di Persikad,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Pemerintah Kota Depok tidak bisa mempertahankan Persikad, dan bahkan tidak boleh ada intervensi APBD di dalamnya.

“Kecualai kalau memang ada pengusaha, monggo saja. Kalau memang ada pengusaha orang Depok misalanya sanggup membiayai dan mengurusi, nanti mereka bisa berkomunikasi dengan kami,” katanya.

Namun begitu, kata dia, persoalan-persoalan Persikad harus diselesaikan terlebih dahulu.

“Kami dengar ada masalah di dalamnya, tidak masalah (pindah ke daerah lain,red),” ungkapnya.

Sebelumnya, Mantan Direktur Utama PT Persikad Jaya Kota Depok, Adi Kumis mengatakan bahwa dirinya terpaksa menjual klub sepak bola asal Depok itu lantaran memiliki hutang yang mencapai miliaran rupiah.

“Kami pernah usulkan ke pemkot untuk mencarikan dana Rp 1,5 miliar untuk melunasi hutang pemain, catering dan lainnya. Namun sampai detik akhir tidak juga, tidak dipenuhi. Kami tunggu sampai Januari sampai Februari tidak juga,” ujar Adi kepada Jurnal Depok, Selasa (3/10/2017).

Sementara, kata dia, tuntutan dan hak para pemain harus segera dibayar. Tidak adanya kepastian tersebut akhirnya Adi mencari orang untuk membelinya. Pasalnya, saat itu Persikad masih dibawah kepemilikan Adi Kumis.

Dikatakan Adi, bahwa dirinya sah-sah saja menjual Persikad dikarenakan klub sepak bola itu masih atas miliknya.

“Saya pikir enggak masalah dong, saya jual dan saya selesaikan hutang-hutang, beres dan selesai. Uang penjualan saya buat bayar hutang, karena jujur saja yang punya hutang bukan saya tapi pengurus lama, namum itu masih memakai nama Persikad, ya saya lunasi hutangnya. Sekarang letak masalahnya di mana?,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Persikad yang milik Depok sesungguhnya tidak ada. Pada saat 2010 terjadi dua kubu kepengurusan, Persikad pemerintah kota menggunakan EPL dan Persikad yang dikelolanya menggunakan ISL.

“Saat itu saya menjalankan Persikad sendiri, sementara Persikad EPL dibantu pemerintah kota. Namun gagal untuk naik promosi ke divisi utama, dan Persikad yang dikelola saya lolos ke divisi utama pada 2010. Sejak 2010 Persikad yang saya kelola sudah main di divisi utama sampai detik ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa hutang Persikad mencapai Rp 2,8 miliar. Adi menjelaskan pemain Persikad sudah delapan tahun lalu tidak dibayar, termasuk catering nya. Namun Adi mengklaim bahwa dirinya menjual Persikad tidak mencapai Rp 2,8 miliar.

“Saya jual di bawah itu, itu rahasia pribadi saya, enggak perlu tahu. Saya jual rugi yang penting urusan selesai,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here