Istri Tahanan Selundupkan Ponsel Di Pembalut

0
149
ilustrasi

Cilodong | jurnaldepok.id
Seorang pembesuk Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Cilodong, Depok kedapatan menyelundupkan ponsel. Ironisnya handphone diselundupkan di pembalut dan dipakai di badan pengunjung. Karena ketelitian petugas maka pengunjung itu bisa terdeteksi.

Kepala Rutan Kelas IIB Depok, Sohibur Rachman mengatakan, percobaan penyelundupan itu terjadi pada Sabtu (21/10) sekitar pukul 11.30 WIB. Ketika itu salah satu pembesuk yaitu S hendak menemui A, suaminya.

Ia mengungkapkan ketika itu S sudah mendaftar di buku tamu dan hendak masuk bersama anaknya yang masih kecil.



“Namun ketika diperiksa dia (S) kedapatan menyimpan ponsel di pembalut yang dipakainya,” katanya, Minggu (22/10).

S terhitung nekat karena dia memanfaatkan kondisinya yang sedang datang bulan dengan menyelipkan ponsel dipembalut yang digunakannya. Ketika hendak diperiksa S sempat berkelit kalau dirinya sedang menstruasi. Namun petugas tetap menjalankan pemeriksaan sesuai prosedur.

“Kalau tidak teliti seperti ini bisa jadi dia lolos memasukkan ponsel ke dalam. Tapi karena petugas teliti, tiap pembesuk diperiksa secara detail,” ungkapnya.

S pun hanya bisa pasrah ketika petugas mendapati ponsel yang menempel di bagian kemaluannya. Dia diminta untuk mengeluarkan ponsel yang diselipkan dalam pembalut yang berlumur darah.

“Ponselnya menempel di tubuhnya. Dia memang sedang menstruasi. Ponselnya ditempel dipembalut dan dipakai,” ucapnya.

Menurutnya kejadian tersebut bukan yang pertama kali. Beberapa waktu sebelumnya pernah terjadi hal serupa namun digagalkan petugas. Ia selalu berpesan pada petugas untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan sesuai prosedur. Sehingga meminimalisir celah yang dimanfaatkan pembesuk.

“Modus-modus demikian memang sering dilakukan pembesuk karena merasa dianggap aman. Saya selalu menegaskan agar pemeriksaan selalu dilakukan sesuai SOP. Pembesuk memanfaatkan berbagai hal untuk menyelundupkan barang ke dalam rutan,” terangnya.

Atas kejadian itu, S diberikan sanksi moral berupa tidak dapat mengunjungi suaminya selama dua pekan. Dari keterangan S kepada petugas, wanita itu mengaku dirinya hendak bekerja di luar kota sehingga memerlukan komunikasi dengan suaminya.

Namun petugas tidak percaya begitu saja. Mengingat A adalah narapidana kasus narkoba. Diduga ponsel itu akan disalahgunakan untuk bertransaksi dengan jaringan narkoba.

“Bisa saja kearah sana karena dia itu memang narapidana narkoba,” katanya.

Dirinya mengatakan sejak Januari hingga Oktober pihaknya sudah menyita lebih dari lima ponsel yang diselundupkan pembesuk ke dalam rutan. Modus yang dilakukan pun beragam.

“Ada yang disisipkan ke konde atau jilbab. Termasuk dimasukkan ke bagian dada. Umumnya mereka menggunakan cara yang dianggap paling aman dan tidak akan dideteksi petugas,” tutupnya.nNur Komalasari

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here