KUA Beji Cegah Perceraian

0
402

Beji | jurnaldepok.id
Belakangan ini kasus perceraian di Kota Depok selain dipicu faktor ekonomi, juga disebabkan oleh media sosial. Sebagai upaya menekan maraknya angka perceraian, Kantor Kementerian Agama Kota Depok Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, menggelar Bimbingan Perkawinan Bagi Calon Pengantin.

Kegiatan tersebut merupakan program Kemenag Depok yang disebar pada 11 kecamatan. Pihaknya, dalam setahun menyelenggarakan tiga kali penataran. Hal itu dibenarkan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Beji, Sholeh Badruzzaman.

Menurutnya acara Kursus Calon Pengantin (Suscatin) bertujuan memberikan pemahaman calon pengantin terkait UU No 1 tahun 1945. Yaitu untuk memberikan pembekalan bagi calon pengantin yang akan hidup ber rumah tangga, memberi pengertian hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga.



Dirinya menambahkan, dalam kesempatan tersebut juga disampaikan materi masalah kesehatan reproduksi dan imunisasi Tetanus dari UPT Puskesmas Beji.

“Dalam penataran ini ditekankan agar para calon pengantin memiliki sikap saling pengertian dalam keluarga. Apalagi, di era globalisasi, teknologi yang banyak informasi dan pengaruh dari luar. Jangan sampai memperkeruh rumah tangga,” ujarnya di Aula KUA Beji, kemarin.

Dirinya juga berpesan, kegiatan yang digelar selama dua hari bisa diikuti peserta Suscatin dengan baik. Pasalnya, mereka akan dibekali materi untuk memasuki rumah tangga dan solusi menghadapi konflik yang bisa berujung pada perceraian.

“Tentunya, kita berharap mereka menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Ini juga pesan buat yang sudah berkeluarga agar arif bijaksana dalam menghadapi permasalahan, jangan sampai berujung pada perceraian,”pesannya.

Sementara itu Penyuluh Agama KUA Beji, H Mustofa mengungkapkan dalam membina masyarakat pihaknya memberikan penyuluhan di Majelis Taklim dan penataran di KUA bagi Suscatin.

Ia mengaku dalam sehari-hari banyak masyarakat yang berkonsultasi terkait pra nikah maupun konflik dalam rumah tangga. Terkait medsos sebagai pemicu perceraian, dirinya juga membenarkan kenyataan tersebut di lapangan. Namun, lanjutnya, faktor lain juga menjadi pemicu perceraian.

“Tanpa disadari, handphone sebagai alat komunikasi bisa menjadi penyebab perceraian. Sebab, bisa saja saat suami isteri berbicara dan salah satunya menggunakan HP tanpa menghiraukan bisa menjadi penyebab perpecahan. Dengan kata lain, menjadi penghambat komunikasi yang berujung curiga, ribut, sampai cerai. Apalagi, fasilitas HP juga lengkap,” tandasnya.

Dirinya mengingatkan kepada pasangan yang akan nikah akan kenyataan, mereka berpikir keindahan saja. Namun, mereka tidak terpikirkan sebelumnya adanya keributan di rumah tangga.
“Solusinya, berikan kesiapan mental dengan membuka tabir yang tidak diduga. Sebab, perceraian karena ribut dan karena ketidaksiapan mental. Kembali menyadari dan menerima pasangan apa adanya. Tentunya, perkuat landasan agama bisa memperkokoh keharmonisan. Apalagi, meski sudah nikah perceraian terjadi karena faktor ekonomi, medsos, HP, rumput tetangga lebih hijau dan lain-lain,”tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut 27 pasangan mengikuti penataran sekaligus verifikasi pendataan. n Rahmat Tarmuji

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here