599 Hewan Tak Layak Kurban

0
155

Margonda | jurnaldepok.id
Sebanyak 599 hewan dinyatakan tidak layak untuk dijadikan hewan kurban. Hewan-hewan tersebut umumnya tidak layak dikurban berdasarkan kaidah syar’i. Antara lain usia hewan yang masih belum cukup dan berat badan yang kurang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Dede Zuraida. Dirinya mengatakan hewan-hewan yang tak layak kurban tersebut didapat dari 177 lapak seluruh Depok.

“Kami sudah melakukan pengecekan dan hasilnya 599 tidak layak dikurban karena berdasarkan kaidah syar’i tidak memenuhi syarat. Antara lain usianya yang masih kurang, ada cacatnya, dan berat badannya juga kurang,” ungkapnya, Senin (28/8).



Berdasarkan syarat ketentuan hewan kurban sesuai syariat Islam antara lain untuk hewan unta genap usia 5 tahun, sapi dua tahun, kambing satu tahun.

Saat ini ia mencatat jumlah total hewan kurban 13.301 dari 177 lapak. Jumlah tersebut bisa terus bertambah hingga perayaan Hari Idul Adha mendatang.

“Dari 13.301 itu yang tak layak ada 599 hewan kurban. Ini perlu adanya public awareness ya atau kesadaran dari masyarakat agar dapat memilih hewan kurban yang terbaik. Kita harus jadi konsumen yang cerdas. Pilih yang berkualitas,”jelasnya.

Dede menambahkan pemeriksaan hewan kurban dilakukan sejak H-10 hingga H +3 lebaran. Akan ada 35 petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP).

“Kalau petugas dinas itu akan periksa hewan pada H-10. Sedangkan mahasiswa dan kementan mulai di h-1 dan h+1 di 63 Kelurahan dan di titik titik pemotongan,” tambahnya.

Sementara itu Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Sri Estuningsih mengatakan ciri hewan kurban yang bagus bisa dilihat dari penampilan fisiknya. Antara lain warna matanya yang merah muda, lidahnya juga memiliki warna yang sama dengan mata.

“Giginya bagus. Kalau untuk kurban giginya harus yang sudah kupak.
Pencernaan bagus tergambar dari tidak adanya diare, kakinya harus kokoh, bulunya licin,” tambahnya.

Sedangkan untuk daging nya bisa dilihat dari warna daging nya yang merah, kenyal dan tidak ada bagian yang menggumpal.

“Bagi masyarakat harus lihat itu dengan teliti. Jangan asal beli hewan kurban saja,” ucapnya.

Kemudian pembungkusan daging kurban juga perlu diperhatikan. Usahakan untuk membungkus daging kurban menggunakan plastik food grade atau bisa menggunakan kantong plastik transparan kemudian dilapisi lagi dengan plastik putih.

“Jangan gunakan plastik kantong hitam karena ada bahan kimianya dan itu recycle,” katanya.

Dirinya menjelaskan daging kurban yang telah dibagikan sebaiknya sebelum dikonsumsi dibersihkan terlebih dahulu sebelum disimpan di dalam kulkas.

“Dicuci kemudian ditiriskan terlebih dahulu. Baru lah disimpan di dalam frezer atau pendingin. Jangan langsung diolah karena itu kan dari luar, ” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman nya selama memeriksa hewan kurban di Depok, sampai saat ini tidak ditemukan hewan yang berpenyakit berbahaya. “Kalau hewannnya kecapean dan stres itu ada karena perjalanan dari luar kota yang jauh. Umumnya hewan kurban berasal dari NTT, Bali, Sumba, Jawa Tengah,” tandas Estu.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here