Jaga Tradisi

0
212

Laporan: Rahmat Tarmuji
Berbagai keceriaan dan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-72 dimeriahkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Hampir di setiap RT merayakannya dengan semangat persatuan dan budaya kearifan lokal. Di Depok, yang merupakan kota penyangga ibu kota, masih kental dengan budaya Betawi nya.

Karena itu, odong-odong dan ondel-ondel menjadi trademark untuk memeriahkan pesta kemerdekaan. Salah satunya di RW-28 Pesona Khayangan II menggaungkan semangat kemerdekaan dengan rasa persaudaraan dan kekerabatan yang kental. Budaya kearifan lokal juga ditularkan kepada para generasi muda di sana.

Mengambil tema ‘Dengan Semangat ’45.. Kita Eratkan Silaturahim Warga RW-28, warga menggelar berbagai kegiatan sejak pukul 06.00 pagi. Odong-odong berkeliling membangunkan warga menggunakan lagu-lagu daerah untuk menjemput warga ke lokasi kegiatan. Odong-odong yang disediakan juga unik, berbentuk seperti mobil hingga motor becak yang dirangkai menjadi satu kereta.



“Intinya kebersamaan. Bicara kemerdekaan itu tak melihat suku bangsa. Kami coba akomodir eratkan silaturahmi mengajak warga menghargai budaya kearifan lokal,” tegas Ketua Panitia 17 Agustus RW 28 Pesona Khayangan II, Dedi Suharya dan Wakil Ketua Panitia, Harry Purnama, kemarin.

Ketua Caretaker RW 28, Mohammad Iqbal menjelaskan tradisi lokal sangat erat dengan keakraban. Tak hannya ondel-ondel dan odong-odong, warga juga dihibur dengan atraksi berbagai lomba, kuda lumping, potong tumpeng, bazar, hingga obor kemerdekaan.

“Banyak kegiatan menghibur warga semua ikut. Dari mulai lomba balap kelereng, balon air, lomba memasak oleh bapak-bapak dengan tiga menu yakni tumis kangkung, mie goreng, dan nasi goreng,” ungkapnya.

Kegiatan juga dimulai dengan lagu menyanyikan Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, dan pembacaan teks Proklamasi. Warga menargetkan kegiatan tersebut akan menjadi acara rutin tahunan. Kegiatan tersebut juga dihadiri warga Pesona Khayangan II yang merupakan mantan Kepala Korps Brimob Kelapa Dua Depok, Irjen. Pol. (Purn.) Sylvanus Yulian Wenas.

Berbagai tradisi kearifan lokal khas rakyat memang sudah dilakukan sejak dulu dalam menyambut pesta kemerdekaan. Sejarawan Universitas Indonesia, Muhammad Wasith Albar menilai secara keseluruhan perlombaan dan budaya kearifan lokal mampu meningkatkan makna solidaritas, sportivitas, dan melupakan atau menihilkan segregasi yang ada. Wasith mencontohkan lomba panjat pinang juga memiliki sejarah panjang.

“Dulu zaman kolonial dikenal dengan istilah “de Klimmast” artinya memanjat tiang. Dirayakan setiap tanggal 31 Agustus untuk memperingati hari lahir Ratu Wihelmina. Selanjutnya diadaptasi oleh masyarakat kita yang dipakai untuk merayakan kemerdekaan RI,” tandasnya. n

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here