Miris, Siswa Belajar di Lantai

0
426
Ketua DPRD Depok didampingi Wakil Ketua Komisi D dan dewan guru MTsN Cimanggis saat berinteraksi dengan puluhan siswa yang belajar di lantai

Cilodong | jurnaldepok.id
Pemandangan memilukan terjadi di sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cimanggis, Kecamatan Cilodong. Di mana, lebih dari 60 siswa kelas IX harus belajar di lantai lantaran tidak adanya meja maupun kursi yang dimiliki sekolah.

“Sebenarnya ada enam kelas, namun yang empat sudah ada meja dan kursinya. Memang dua kelas ini belum ada meja maupun kursinya. Satu kelas ada sekitar 33 siswa, jadi dua kelas ini ada 66 siswa yang belajar di lantai,” ujar Ridwan, Kepala TU MTsN Cimanggis saat mendampingi Ketua DPRD Depok yang melakukan kunjungan ke sekolah tersebut, Senin (14/8).

Ia menambahkan, bahwa sesungguhnya pihak sekolah sudah pernah mengusulkan bantuan atas kekurangan meja dan kursi belajar, namun pihaknya tidak mengerti kenapa usulan itu belum direalisasikan apakah jalurnya yang salah atau seperti apa.



“Para siswa (melantai,red) dari mulai masuk pukul 07.00 sampai pukul 14.15 WIB. Kondisi ini berlangsung sudah setahun lalu. Jumlah siswa keseluruhan mencapai 700an,” paparnya.

Ketua DPRD Kota Depok, Hendrik Tangke Allo yang datang langsung ke sekolah tersebut nyaris tidak bisa berkata-kata. Dirinya mengaku sangat prihatin di usia Depok yang 18 tahun masih ada siswa yang belajar di lantai.

“Sangat prihatin melihat siswa dua kelas belajar ngampar, bagaimana mereka mau belajar dengan baik. Pemerintah kota harus turun tangan, jangan beranggapan kalu ini tanggungjawab Kemenag sehingga Pemkot Depok lepas tangan, kami pikir harus segera ambil tindakkan,” tegas Hendrik.

Hendrik yang didampingi oleh Wakil Ketua Komisi D DPRD Depok, Sahat Farida Berlian menjelaskan, Pemkot Depok harus segera mengirimkan mebelar serta menyiapkan sarana dan prasarana sekolah. Terlebih, kata dia, sekolah tersebut merupakan satu-satunya MTs Negeri yang ada di Depok.

“Pendidikan keagamaan di sini tentu lebih banyak, namun melihat kondisi ini kami sangat miris. Dianggaran perubahan kemarin kami telah anggarkan, namun itu masih sangat minim karena kami baru dapat infonya,” terangnya.

Akan tetapi, sambungnya, minimal anggaran sebesar Rp 150 juta yang telah dialokasikannya dapat menanggulangi pengadaan meja dan kursi, sehingga ke depan tidak ada lagi siswa yang belajar di lantai.

“Kami akan koordinasi ke dinas, mungkin nanti nominal itu bisa dialokasikan untuk hibah barang berupa meja dan kursi, di tahun ini juga. Saya dulu sekolah di kampung tidak seperti ini, ini kota loh. Enggak boleh ada yang seperti ini lagi di Depok,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here