PAD Pariwisata Tak Jelas

0
199

Sawangan | jurnaldepok.id
Sebagai daerah penyangga ibukota, Depok juga dikenal sebagi kota tujuan wisata khususnya bagi wisatawan domestik. Banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi di Depok seperti wisata religi, wisata air, wisata pepohonan, wisata kuliner maupun wisata budaya.

Namun sayang, potensi pajak yang seharusnya bisa menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor tersebut tidak jelas. Hal itu dirasakan langsung oleh Walikota Depok, Mohammad Idris. Di mana, banyak tempat wisata di Depok namun tidak signifikan dalam menghasilkan PAD.

“Pertanyaannya tempat wisata itu menyumbang devisa, kalau menyumbang devisa ke daerah itu PAD. Ini harus dievaluasi di mana letaknya,” ujar Idris kepada Jurnal Depok, Senin (7/8).



Idris mencontohkan, Kubah Emas sebagai tempat wisata religi hingga kini diakuinya belum menambah PAD untuk Kota Depok.

“Pertanyannya harus dijawab, adanya di mana, mungkin di regulasi sadar dan tertib admistrasi. Ini harus dilakukan, kalau enggak ya bisa mendirikan masing-masing (tempat wisata,red),” paparnya.

Dikatakannya, potensi PAD Kota Depok berasal dari pajak. Dari itu, Idris menanyakan bagaimana pajak dari mereka (tempat wisata).

“Tanyakan saja ke mereka. Di sini ada yang namanya D’Kandang, kalau menurut catatan ke kami sudah bagus ada pajaknya. Pajak ini ada karena ada izinnya, ini yang kami maksud dengan regulasi. Banyak potensi pajak di Depok seperti Rumah Keramik, ada juga Rumah Betawi, nah itu juga dijadikan tempat wisata kan operasionalnya harus izin, izin nya akan berefek kepada pajak,” terangnya.

Jika hal tersebut masih seperti saat ini, kata dia, dapat dipastikan tidak akan menambah PAD bagi Kota Depok.

“Belum maksimal dari berbagai hal. Kami minta kepada dinas terkait seperti Dispora agar berkoordinasi dari sisi infrastruktur ke Dinas PUPR, dari sisi regulasi bisa ke perizinan dan penanaman modal, jadi harus bersinergi,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here