Mukidi Oh Mukidi

Laporan: Nur Komalasari

Beberapa minggu terakhir masyarakat disuguhkan oleh guyonan yang melesatkan nama Mkukidi. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya siapa itu Mukidi?.

 

Konon katanya, nama Mukidi ini memang sudah lama menjadi bahan candaan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Arti Mukidi bergantung kepada siapa yang menafsirkan, bisa berarti positif bisa juga negatif.

Pastinya nama Mukidi ini berkesan ndeso, kampungan, atau bahasa kekiniannya bully able. Tak heran bila joke-joke bermunculan soal Mukidi ini. Bila di Jawa Barat, sosok Mukidi ini mungkin bisa disandingkan dengan Kabayan.

Mukidi terus merajai isu di WA. Orang-orang terus menyebarkan virus Mukidi. Ada juga yang menyebar foto orang bernama Mukidi. Sekali lagi Mukidi ini sebatas canda. Orang-orang pun sepertinya walau tak mengerti bagaimana Mukidi bisa ramai, akhirnya menikmati joke soal Mukidi.

 

Psikolog Universitas Pancasila (UP), Aully Grashinta menilai fenomena Mukidi menjadi sorotan karena masyarakat saat ini memerlukan hiburan. Guyonan tersebut menyebar secara viral dengan cepat karena saat ini masyarakat sudah bosan dengan pemberitaan berat.

“Guyonan Mukidi yang sederhana, mudah dipahami (nggak pakai mikir), dekat dengan kehidupan sehari hari sebagian besar masyarakat membuatnya cepat diminati,” kata Shinta, kemarin.

Ia melanjutkan hiburan Mukidi sendiri sebenarnya ringan, sederhana, tidak menggunjing siapapun. Kemudian candaannya dianggap bisa menyatukan banyak orang. Saat ini sedikit perbedaan saja bisa memacu konflik.

Fenomena Mukidi dan guyonan intermeso lainnya akan selalu muncul di tengah kelelahan psikologis ini.  “Karenanya mudah dicerna dan dilanjutkan dari satu kelompok ke kelompok lainnya suasana politik, ekonomi, dan sosial masyarakat indonesia saat ini memang sedang lelah psikologis,” paparnya.

Membaca suasana jenuh masyarakat, maka adanya Mukidi dianggap banyak orang yang cukup ‘kreatif’ dan cukup punya waktu untuk menghasilkan hal-hal seperti itu. Padahal tidak banyak yang tahu siapa mereka sebenarnya.

“Ini hanya fenomena biasa. Namun menjadi sorotan karena dianggap menghibur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here